Mungkin iya, bisa diakui kalau itu berani mati. Tapi tanya lagi dan lihat lagi, ini berani hidup juga nggak? Kenapa kerasnya beda? Kematian itu konklusif, selesai dalam satu titik. Tapi hidup, entah kenapa, terasa seperti garis panjang tanpa ujung, penuh cabang dan rintangan yang terus menolak untuk didefinisikan. Berani mati mudah dipuja, tapi berani hidup kadang justru tak terlihat. Sebab hidup butuh menahan semua sakit yang tak punya nama, menanggung sunyi yang bahkan Tuhan pun kadang cuma diam terhadapnya.
Membabi buta atas ketidakpedulian adalah bentuk lain dari keputusasaan. Sukar untuk diketahui kapan tepatnya seseorang berhenti peduli. Karena berhenti itu tidak selalu berarti kehilangan, bisa juga bentuk bertahan seperti halnya cara lain agar tetap waras ketika dunia sudah terlalu keras. Meski begitu, satu langkah bertahan masih lebih baik ketimbang hidup segan mati pun tak mau. Mungkin bentuk keberanian paling jujur justru adalah terus berjalan walau tidak tahu untuk apa.
Dan pada akhirnya, mungkin benar. Semuanya pasti akan kehilangan banyak hal. Bahkan untuk bisa kehilangan diri sendiri pun tidak mustahil. Tidak akan ada yang pernah tahu betapa banyak hal yang akan hilang sepanjang menjalani hidup ini oleh sebab karena kehilangan tidak datang tiba-tiba, tapi pelan-pelan, diam-diam, lewat perubahan kecil yang hampir tak terasa. Hanya saja semuanya sukar untuk mengetahuinya dengan perlahan, seperti jam dinding yang makin jarang diperhatikan sampai akhirnya terjadinya pelambatan dalam itungan detik atau menut bahkan sampai berhenti tanpa suara.
Teman yang dulu setiap hari mengirim pesan, mengajak nongkrong, kini mungkin hanya muncul di kenangan dan ingatan. Nama mereka masih tersimpan di ponsel, tapi tak lagi berdering. Orang tua yang dulu mengantar atau menjemput ke sekolah, kini bahunya mulai menunduk, batuknya makin sering dan kerung, dan langkahnya lebih pendek dari dulu. Menatap diri mereka seperti foto yang perlahan pudar, sadar bahwa waktu tak akan mengembalikannya.
Dan cinta? ah elah cinta. Yang dulu penuh janji kini mungkin hanya sisa kebiasaan. Dua orang yang terlalu letih untuk berpisah, tapi juga sudah tidak tahu bagaimana caranya mencintai. Mereka masih ada di tempat yang sama, tapi rasanya mungkin berbeda. Cinta yang dulu menyalakan cahaya kini hanya jadi bara kecil yang cukup untuk membuat keduanya tidak kedinginan, tapi tidak lagi hangat.
Barang-barang kecil di kamar silih berganti, wajah-wajah familiar mulai jarang muncul, dan rasa hangat di tempat yang dulu disebut rumah mulai terasa asing. Kehilangan, ternyata, tidak datang dalam satu ledakan besar. Ia datang lewat langkah-langkah kecil, lewat hal-hal yang dianggap sepele seperti kursi yang kini kosong, suara yang berhenti di tengah tawa, rutinitas yang perlahan kehilangan maknanya.
Terus melangkah di antara sisa-sisa hal itu, mencoba menyusun ulang hidup yang terasa berantakan tapi tetap harus dijalani. mengetahui bahwa sesuatu berubah, tapi tak tahu apa. Dan di tengah itu semua, semua pun pelan-pelan kehilangan jati dan diri sendiri. Hal-hal yang dulu membuat hidup (musik, tawa, impian) kini tidak lagi mengguncang seperti dulu. Seakan semuanya tinggal gema dari kehidupan yang pernah lebih penuh, lebih berani, lebih bermakna.
Lalu pada suatu malam, menatap diri di cermin dan bertanya, ke mana perginya versi diri yang dulu? Versi yang punya rencana besar, yang tidak takut gagal, yang percaya bahwa hidup bisa ditaklukkan. Kini yang tersisa hanya sosok yang tahu caranya bertahan, tapi lupa bagaimana caranya bermimpi. Perubahan itu tidak terjadi dalam sehari, tapi dalam ribuan hari yang terasa sama di mana semangat sedikit demi sedikit larut ke dalam rutinitas yang menua bersama waktu.
Ada ironi dalam kenyataan bahwa manusia kehilangan segalanya sambil terus hidup. Kehilangan tanpa disadari, lalu belajar berdamai dengan hilangnya. Dan mungkin inilah yang membuat hidup terasa berat, bahwa semuanya tidak benar-benar mati, tapi sedikit demi sedikit kehilangan bagian dari diri sendiri tanpa pernah bisa memakamkannya.
Namun di sela semua kehilangan itu, kadang masih muncul satu percikan kecil. Sesuatu yang tak bisa dijelaskan tapi tetap menolak padam, entah itu rasa ingin tahu, atau keberanian untuk terus merasa. Barangkali itu sisa-sisa versi diri yang dulu. Ia tidak benar-benar mati, hanya tertidur di tempat yang tak bisa dijangkau oleh rasa lelah.
Kehidupan, pada akhirnya, bukan tentang apapun hal yang paling kuat bertahan, tapi pada apa yang masih mau mencoba merasa, meski tahu bahwa semuanya akan hilang juga. Sebab mungkin kehilangan adalah cara Tuhan mengingatkan bahwa kita masih punya sesuatu untuk dirindukan, sesuatu untuk diingat, dan sesuatu untuk dimaafkan.
Dan saat semuanya perlahan hilang (suara, wajah, bahkan keyakinan) mungkin yang paling penting bukan mencari kembali apa yang hilang, tapi berani mengakui bahwa apapun sedang berubah. Karena mungkin itu satu-satunya cara agar bisa tetap hidup. Jadi bukan dengan menolak kehilangan, tapi dengan menerima bahwa kehilangan adalah cara hidup yang mengajari untuk tidak berhenti mencintai, bahkan saat semua sudah tak lagi sama.