Hidup ini lama-lama terasa kayak lakon usang yang terus dipentaskan dengan aktor-aktor yang sok baru. Panggungnya masih sama, dialognya masih itu-itu aja, cuma pengucapnya yang ganti. Dunia yang dihamparkan bak sebuah panggung, tapi kebanyakan aktor lupa naskah aslinya. Saking seringnya improvisasi demi kelihatan menonjol, mereka lupa bahwa ada alur besar yang harusnya dijaga. Tapi ya, siapa peduli? Selama bisa berdiri di spotlight, siapa pun bebas bicara, meski isinya cuma pengalihan dan pemolesan diri. Bobrok banget ga pernah ngaca kali ya ngomong seenak jidatnya gitu
Yang paling menyebalkan dari lakon itu adalah si yang merasa paling tahu. Padahal sebagian besar cuma kebagian potongan-potongan kecil yang sudah digoreng sesuai selera yang percaya pada versi yang paling nyaman, bukan yang paling mendekati kenyataan. Lalu menyebarkannya seakan itu kebenaran mutlak, dirangkum dan dibundel dibalik kebijakan. Semua orang jadi ahli, semua orang merasa punya peran penting. Padahal dalam lembar naskah asli, mungkin namanya bahkan tidak tercantum.
Satu demi satu berdiri, menjelaskan, membela, menyanggah. Tapi jarang yang benar-benar bertanya kenapa harus bicara? Apa semua opini itu benar-benar dibutuhkan, atau hanya pengalihan agar tak perlu berkaca? Manusia sampah, semuanya memang penutur dusta, cuma beda versi ceritanya aja. Ada yang pandai menghaluskan, ada yang menjilat demi kepentingan, ada yang suka menggedor-gedor pintu kebenaran yang dibuatnya sendiri. Tapi tetap saja, semuanya bermuara pada satu hal dan selalu ingin jadi pemenang di cerita yang tak pernah mereka tulis dengan jujur.
Yang jujur sering kalah. Bukan karena lemah, tapi karena kejujuran tidak pernah bersuara cukup keras untuk menyaingi kebisingan yang disengaja dan udah males duluan sambil ngeliat hiruk piruk cacian dari yang merasa sok benar. Orang-orang lebih suka sesuatu yang indah meski palsu, ketimbang yang benar tapi menyakitkan. Lalu perlahan, jujur menjadi barang langka. Tidak punah, tapi terasing. Disingkirkan karena tak sesuai tone, karena terlalu mengganggu narasi umum yang dibuat oleh mayoritas yang tak pernah benar-benar paham atau gelombang individu yang membuat lingkaran sendiri.
Dalam gelombang besar itu, tidak sedikit yang akhirnya memilih diam. Bukan karena tidak punya argumen, tapi karena tahu bahwa berdebat di pasar yang menjual ilusi hanya akan membuat isi kepala ikut leleh. Diam bukan tanda kalah. Diam adalah cara untuk menjaga akal sehat tetap utuh ketika sekitar sudah terlalu bising oleh ego. Membaca dan memperhatikan, menilai bagaimana mereka mempermainkan semuanya dengan cara yang menjijikan dan sok berlandaskan
Ada semacam lelah yang tumbuh setiap kali melihat sandiwara yang sama dimainkan ulang dengan wajah berbeda. Lelah bukan pada ceritanya, tapi pada pengulangan. Pada fakta bahwa semuanya terus berulang seolah tidak pernah belajar dari bab sebelumnya. Seakan pelajaran hanya berlaku sekali pakai. Seakan luka yang lama tidak pernah cukup dalam untuk mengubah jalan pikiran siapa pun.
Dan parahnya, beberapa orang bahkan bangga dengan ketidakkonsistenannya. Hari ini bilang A, besok B, lusa pura-pura lupa pernah ngomong apa pun. Mereka pikir publik memori pendek. Sayangnya, benar juga. Manusia memang menjadi karakter pelupa yang naif, apalagi kalau yang disodorkan adalah hiburan, sensasi, dan narasi yang bikin nyaman telinga. Jadi ya jalan terus aja. Sekalipun kakinya berdarah, asal wajahnya tetap tersenyum, dianggap baik-baik aja bak temen gua yang mukanya udah gosong kayak areng.
Kita hidup di era di mana kebenaran bukan soal data, tapi soal siapa yang ngomong duluan. Soal siapa yang paling banyak memiliki semacam kuasa, disanjung mungkin atau gatau dah. Logika perlahan direduksi jadi gaya bahasa. Akal sehat dikalahkan oleh popularitas. Bahkan empati pun diukur dari estetika.
Sementara itu, yang benar-benar berusaha hidup dengan tenang, tanpa banyak bicara, justru dianggap tidak relevan. mungkin dibilang ketinggalan zaman atau kudet. Disindir nggak punya sikap. Padahal mungkin mereka cuma nggak punya tenaga buat ikut nyemplung ke kolam lumpur yang isinya saling dorong dan saling tuduh. Mereka bukan pengecut, hanya memilih bertahan dalam bentuk yang masih manusiawi.
Semua ini seakan permainan besar yang nggak ada wasitnya. Nggak ada batas lapangannya. Siapa aja bisa ikut. Dan yang menang bukan yang paling pintar, tapi yang paling berani kelihatan benar. Nggak penting benar apa enggaknya. Yang penting, kelihatan. Karena di dunia ini, yang nggak terlihat dianggap nggak ada. Padahal justru yang paling berbahaya seringkali yang bergerak dalam diam.
Lalu apa yang bisa dilakukan? Nggak banyak atau mungkin gausah ada. Mungkin cuma terus menulis, atau terus berpikir. Terus mempertanyakan, meski tidak semua perlu jawaban. Terus menjaga satu dua prinsip yang masih tersisa, walau kadang rasanya kayak bawa air di keranjang bolong. Tapi ya, itu semua bagian dari suatu pertahanan. Bukan untuk menang, tapi untuk tidak ikut jadi aktor yang lupa naskah.
Dan kalau pun nanti panggung ini benar-benar runtuh, semoga masih ada satu dua orang yang sadar bahwa pernah ada skenario yang ditulis dengan niat baik. Bukan untuk jadi cerita megah, tapi cukup jadi catatan kecil bahwa pernah ada yang mencoba tidak membohongi dirinya sendiri.