Mulai lagi dan mulai lagi

Satu Januari 2026. Pertanyaan yang sama kembali muncul, berulang seperti gema yang tak pernah benar-benar pergi. Apa yang baru? Apa yang berubah? Apakah tahun ini akan membawa sesuatu yang benar-benar mengesankan, atau hanya variasi lain dari kelelahan yang sudah akrab sejak lama. Apakah ada stok sial lagi kah yang menyertai diri hingga akhirnya mungkin aja gua bisa menyerah dengan keadaan. Pertanyaan itu tidak datang dengan antusiasme, tapi dengan nada datar, seolah ekspektasi sudah terlalu sering dikecewakan untuk bisa berharap secara utuh lagi.

Terlepas dari kenyataan bahwa 2025 adalah tahun yang berat, nyatanya beban itu tidak berdiri sendiri. Ia serupa dengan tahun sebelumnya dan tahun sebelumnya lagi, dan mungkin tidak jauh berbeda dengan yang akan datang. Beratnya bukan hanya karena kejadian besar, tapi karena akumulasi hal-hal kecil yang tak pernah benar-benar selesai. Masalah yang ditunda, keputusan yang dipaksa, dan kompromi yang terasa seperti menggerus diri sendiri sedikit demi sedikit.

Lalu muncul pertanyaan lanjutan yang lebih jujur, meski jarang diucapkan keras-keras: sebenarnya ada ekspektasi apa lagi dari tahun yang baru ini? Apakah masih masuk akal berharap pada perubahan besar, sementara pola lama terus diputar ulang oleh orang-orang yang sama, dengan cara yang sama, dan alasan yang hampir selalu klise. Atau justru ekspektasi itu sendiri yang menjadi beban tambahan yang seharusnya dilepas?

Kadang rasanya wajar untuk bertanya, apakah menyerah itu sepenuhnya salah. Apakah salah jika lelah dengan banyak hal yang tak bisa dijalankan karena selalu berbenturan dengan mosi dan ego segelintir orang. Orang-orang yang merasa paling tahu arah, paling benar dalam mengambil keputusan, namun jarang benar-benar menanggung dampak dari keputusan itu sendiri. Di hadapan mereka, niat baik dan loyalitas sering kalah oleh kepentingan pribadi yang dibungkus rapi dengan dalih profesionalisme, ah tai aja.

Yang paling melelahkan bukanlah kegagalan, tapi usaha yang berulang kali dipatahkan sebelum sempat tumbuh, tak diacuhkan karena ekspektasi ganda seperti banyaknya muka dua yang bertebaran disekitar, bedanya ini punya pangkat. Ide yang seharusnya matang dipangkas di tengah jalan. Proses yang seharusnya berjalan diberhentikan dengan alasan yang tak pernah konsisten. Dan pada akhirnya, yang tersisa hanya rasa jenuh terhadap siklus yang terus mengulang dirinya sendiri.

Tahun demi tahun berjalan seperti deretan angka tanpa makna emosional yang jelas. Kalender berganti, ucapan selamat bertebaran, resolusi ditulis lalu dilupakan. Tapi di balik semua ritual itu, ada keheningan yang tidak pernah benar-benar dibahas: kelelahan kolektif yang dipendam, ketidakpercayaan yang tumbuh pelan, dan rasa bahwa banyak hal tidak lagi bergerak ke arah yang lebih baik, hanya bergerak agar terlihat hidup.

Ada fase di mana bertahan terasa lebih berat daripada menyerah. Bukan karena tidak mampu, tapi karena terlalu sering diminta menyesuaikan diri dengan sistem yang tidak adil. Terlalu sering diminta mengalah demi stabilitas yang hanya menguntungkan satu sisi. Dalam kondisi seperti itu, bertahan bukan lagi soal keteguhan, tapi tentang seberapa jauh seseorang sanggup mengorbankan dirinya sendiri tanpa kehilangan sisa harga diri. mungkin bias lama yang menjadi penyakit kronis kali ya, hanya karena tidak pernah merasakan tidak pernah tau tidak pernah dan tak akan pernah mau melihat. seakan satu sisi adalah hal yang berat, maksudnya satu sisi lain yang digelutinya. gapernah peduli atau paling banter adalah pura-pura peduli pura pura bertanya dan pura pura prihatin namun dengan klise yang sama, serupa dan selalu itu itu aja menceritakan kisah lama yang kadar beban dan resolusinya pun sudah lawas dan tidak relevan. bukan contoh, tapi menyudutkan dan membandingkan saja terus.

Namun menyerah pun bukan perkara sederhana. Ada tanggung jawab yang tidak bisa begitu saja dilepaskan. Ada orang-orang yang bergantung, ada sistem yang sudah terlanjur berjalan, ada konsekuensi yang tidak akan hilang hanya karena keinginan untuk berhenti. Maka banyak orang memilih jalan tengah yang paling melelahkan: tetap berjalan tanpa keyakinan, tetap bekerja tanpa gairah, tetap hidup tanpa benar-benar merasa hadir.

Satu Januari seharusnya menjadi simbol awal, tapi sering kali justru terasa seperti pengingat betapa sedikit yang benar-benar berubah. Kita membawa beban lama ke tahun baru tanpa sempat menurunkannya. Luka lama ikut pindah kalender. Masalah lama hanya berganti label tahun. Dan kita, entah kenapa, masih diminta untuk terlihat optimis di tengah kondisi yang semakin menguras.

Ada momen-momen sunyi di mana seseorang menyadari bahwa yang ia kejar selama ini bukan lagi pencapaian, melainkan ketenangan. Bukan pengakuan, melainkan ruang bernapas. Bukan kemenangan, melainkan berhentinya konflik yang tidak perlu. Kesadaran ini tidak datang dengan euforia, tapi dengan keheningan yang panjang dan agak menyakitkan.

Mungkin tahun baru tidak selalu tentang menjadi lebih baik. Bisa jadi ia hanya tentang menjadi lebih jujur. Jujur pada batas diri, jujur pada kelelahan, jujur pada kenyataan bahwa tidak semua hal bisa diselamatkan. Dan mungkin itu tidak apa-apa. Tidak semua yang runtuh harus dibangun kembali dengan bentuk yang sama.

Di tengah semua itu, hidup tetap berjalan. Hari tetap berganti. Tugas tetap menunggu. Dunia tidak berhenti hanya karena seseorang sedang mempertanyakan makna keberadaannya. Maka pilihan yang tersisa bukan antara optimis atau pesimis, tapi antara sadar atau sekadar autopilot. Antara hadir sepenuhnya, atau hanya menjalani tanpa benar-benar terlibat.

Satu Januari 2026 akhirnya tidak menjanjikan apa-apa. Tidak memberi kepastian, tidak menawarkan jalan pintas. Ia hanya membuka halaman baru yang masih kosong, dengan tinta lama yang masih menodai ujung pena. Dan mungkin, untuk saat ini, itu sudah cukup. Karena kadang hidup bukan tentang menemukan jawaban, tapi tentang bertahan cukup lama untuk berani terus bertanya.