Musibah yang sudah diprediksi

Sekitar 11 Desember 2025, malam habis isya. Salah satu malam yang sebenernya nggak direncanakan buat jadi apa-apa, cuma rangkaian dari hari-hari yang keempetan. Baru pulang kerja, badan capek, kepala masih kepikiran sisa-sisa urusan. Seperti biasa, langkah kaki otomatis belok ke kantor dulu, tempat staf-staf gua biasanya masih ada, berkumpul tanpa agenda jelas selain memastikan hari itu benar-benar selesai.

Di kantor suasananya setengah hidup, setengah mati. Lampu masih nyala, suara keyboard kadang muncul, kadang tenggelam. Gua berdiri sebentar, ngeliatin alur administrasi yang terus bergerak, data yang masuk, laporan yang disimpan. Ironisnya, hampir semua itu bergantung pada sistem yang gua bangun sendiri, pelan-pelan, sambil jatuh bangun, sambil belajar dari kesalahan yang kadang mahal.

Dan di tengah semua itu, ada satu bunyi kecil yang bikin badan gua langsung siaga. Bunyi “nut… nut…” yang nggak keras, tapi cukup buat bikin dada turun setengah. Bunyi yang cuma akrab buat orang-orang yang hidupnya dekat sama mesin. Bunyi dari NAS Synology gua, mesin kecil yang dulu gua beli sekitar April 2023, di masa keuangan yang nggak bisa dibilang lapang. Eh tunggu dulu, ini berarti staff-staff gua ga ngabarin gua dong kalo ini NAS kenapa-napa.

Waktu itu gua maksa beli NAS buat pembalajaran gua, padahal baru abis ngerakit server lagi belasan juta, ya gimana ya karena ngerasa satu hal: data itu bukan pelengkap, tapi tulang punggung. NAS ini gua taruh sebagai media storage , meskipun ini spek rumahan, tapi gua fungsiin jadi server media pesantren. Tempat semua file penting berkumpul, dari laporan administrasi sampai media harian yang dipakai banyak orang tanpa mereka sadar.

Terakhir gua inget, kapasitasnya udah kepake sekitar 600GB dari total 2TB. Speknya kecil, RAM cuma 512MB, jauh dari kata cukup( makanya akhir akhir ini gua bikin server cdn dulu) Tapi mesin ini jalan terus, diem-diem, nggak pernah protes, nggak pernah minta perhatian. Sampai malam itu, lampu indikator Disk 2 berkedip kuning dengan ritme yang bikin perasaan nggak enak.

Gua buka dashboard, cek satu-satu. Ricek. Dan akhirnya harus nerima kenyataan yang sebenernya udah kebaca dari awal: Disk 2 mati total. Nggak bisa diselamatkan. Rusak fisik. Bukan error software, bukan salah konfigurasi. Murni perangkat keras yang udah selesai tugasnya.

Anehnya, di titik itu gua nggak panik. Ada rasa kaget, iya. Tapi lebih banyak rasa syukur yang naik pelan-pelan. Karena gua tau, NAS ini jalan pakai RAID. Data nggak langsung hilang. Disk 1 masih hidup. Semua file masih ada. Yang dibutuhin cuma satu hal: pengganti yang sama, lalu repair.

Gua langsung japri toko langganan lewat Tokopedia. Merchant yang udah sering gua pake. Mereka nyaranin klaim garansi, bilang masih bisa dibantu karena masa garansi dua tahun. Tapi gua cek lagi, umur NAS ini udah lewat dua tahun lebih. Dan entah kenapa, gua ngerasa kali ini nggak pengen ribet. Gua bilang, “nggak usah klaim, gua beli baru aja.”

Pilihan jatuh ke HDD yang sama persis: WD Red Plus 2TB, tipe NAS HDD. Harga waktu itu 2.319.000. Barang dikirim ke kantor gua di Pasar Minggu karena pengirimannya dari Jakarta Barat. Gua pikir, besok malam baru dieksekusi. Santai. Toh data masih aman.

Tapi ternyata ceritanya belum selesai.
Pas gua mau bongkar NAS, masalah baru muncul. Bautnya susah dibuka. Bukan karena NAS-nya aneh, tapi karena obeng yang ada di kantor nggak ada yang layak. Dan ini murni kesalahan internal gua sendiri.

Lucunya, gua ini orang yang selalu beli obeng buat stok. Kalau dihitung-hitung, gua punya lebih dari 40 obeng. Tapi malam itu, satupun nggak ada. Yang tersisa di kantor SAS cuma obeng jelek, giginya udah aus, dipaksa muter malah bikin baut rusak. Di situ emosi mulai naik, bukan ke alatnya, tapi ke dampaknya dan pasti ke staff gua. Bayangin, enak banget. orang orang suka ngatain enak banget tempat gua enak banget tempat gua. padahal selama ini mereka yang keenakan. mau obeng tinggal ketempat gua, bilang minjem padahal ngambil gapernah balikin. bukan cuma itu, obeng palu dan perkakas-perkakas lain disepelein gitu padahal gua beli pake duit sendiri, bener-bener duit pribadi. Sial kan, gua kayak orang yang harus memenuhi ekspektasi orang sok sibuk padahal gua kalo mau apa-apa selalu ribet sendiri.

Karena server media pesantren nggak bisa aktif. Sistem jajan santri pakai kartu. Kalau server mati, bisa jadi anak-anak ngutang di kantin. Operasional bisa terganggu. Dan gua nggak berani naikin server media, meskipun beda mesin sama server transaksi, karena pengalaman lama: delay, timeout, retry dobel, transaksi kacau, dan akhirnya gua nombok puluhan juta karena nggak bisa trace siapa yang diuntungin.

Akhirnya gua nyuruh staf dengan nada yang nggak bisa ditawar:
“Beli obeng. 20 biji. Ukuran sama. Warna sama. Jangan nanya.”

Besoknya, malam-malam lagi, gua dikabarin: obeng lengkap.
Dan ya, gua semprot. Server mati berjam-jam. Jahat? Bisa jadi. Zolim? Mungkin. Tapi kalau sistem jalan setengah-setengah, risikonya jauh lebih gila. Lebih baik berhenti sebentar daripada rusak lama. Liat, karna gabisa jaga aset gabisa jaga barang, maen kasih kasih aja padahal itu barang gua jadi kemana-mana masalahnya kan.

Begitu alat lengkap, gua bongkar NAS, pasang HDD baru di slot ke-2. Buka Storage Manager, masuk ke Global Settings, pilih Storage Pool, klik Repair. Proses jalan. Pelan. Ada persentase naik satu-satu. Disk 2 mulai disinkron ulang dari Disk 1. Dan di titik itu, gua cuma duduk, ngeliatin layar, sambil senyum kecil. Data kembali identik. Volume hidup. Sistem stabil. Nggak ada yang tahu drama kecil di balik layar itu, tapi gua tahu betul apa artinya.

Malam itu gua pulang dengan perasaan aneh. Capek iya, kesel iya, tapi ada rasa lega yang nggak bisa dijelasin. Mesin kecil di sudut ruangan itu kembali diam, nggak bunyi apa-apa, seolah nggak pernah terjadi apa-apa. Tapi buat gua, malam itu jadi pengingat panjang tentang betapa tipisnya jarak antara “aman” dan “kacau”.