Rasa Aman yang Menipu dan Takdir yang Menunggu Balasan

Bagus kata-katanya kalo musuh terbesar itu bukan tempat sepi, tapi selalu merasa udah aman. Sepi sering dituduh sebagai sumber kehancuran, padahal yang benar-benar melumpuhkan justru rasa aman palsu. Perasaan bahwa semuanya sudah terkendali, bahwa tidak ada lagi yang perlu diwaspadai. Di sanalah refleksi berhenti bekerja, dan manusia mulai lengah terhadap perubahan kecil yang perlahan menggerogoti fondasi.

Rasa aman itu sering datang bukan dari kesiapan, tapi dari kebiasaan. Terbiasa dengan pola yang sama, orang yang sama, sistem yang sama, sampai lupa bahwa dunia tidak pernah berhenti bergerak. Ketika sesuatu runtuh, yang disalahkan sering kali situasi, bukan kelengahan yang sudah lama dipelihara. Padahal bahaya jarang datang sebagai ledakan, ia lebih sering menyusup sebagai kenyamanan.

Dalam konteks itu, hidup terasa seperti wadah dari sesuatu yang dinamakan takdir dan akibat. Setiap keputusan, sekecil apa pun, mengendap di dalam wadah itu, menunggu waktu untuk menampakkan bentuknya. Takdir bukan sesuatu yang jatuh dari langit begitu saja, tapi hasil dari rangkaian sebab yang sering diabaikan. Dan akibat tidak selalu datang sebagai hukuman, kadang ia hadir sebagai cermin.

Ada hal-hal yang sengaja dijauhi. Emang itu yang dijauhin. Bukan karena tidak penting, tapi karena terlalu mengganggu kenyamanan. Seakan hanya beberapa orang tertentu dari manusia yang bisa mengalami pengalaman spiritual, padahal nyatanya esensinya ada di kita sendiri. Kita ini makhluk spiritual, terlepas dari dogma kehidupan tentang makhluk sosial, perkara mengalami kehidupan bak manusia. Spiritualitas tidak eksklusif, ia tidak memilih kasta, hanya kejujuran.

Namun kejujuran adalah barang langka. Banyak orang lebih suka membungkus pengalaman batin dengan simbol, ritual, dan jargon, ketimbang benar-benar mengalaminya. Padahal pengalaman spiritual sering datang dalam bentuk paling sederhana: kesadaran, kehilangan, rasa syukur, atau keheningan yang tidak bisa dijelaskan. Ia tidak selalu hadir di tempat ibadah, kadang justru muncul di titik paling rapuh dalam hidup.

Kadang pengorbanan yang tulus lebih kuat dari doa yang lantang. Ada tindakan-tindakan sunyi yang tidak pernah diumumkan, tapi dampaknya jauh lebih nyata daripada seribu kata yang diucapkan. Pengorbanan tidak selalu heroik, sering kali ia terlihat bodoh, merugikan, bahkan disalahpahami. Tapi justru di sanalah ketulusannya diuji, tanpa sorak, tanpa validasi.

Di sisi lain, manusia juga pandai menyamar. Ga untuk menghakimi atau cari pembelaan. Namun saat mabuk miras, orang jadi jujur. Beda dengan ketika mabuk agama, orang jadi pembohong dan banyak bet ngarangnya. Kalimat ini terdengar kasar, tapi menyentuh satu ironi besar. Ketika kesadaran dilemahkan oleh zat, topeng sering jatuh. Tapi ketika kesadaran diklaim paling suci, topeng justru dipertebal.

Penekanan yang hanya akan dilihat dari simpul yang mudah diduga sering menjadi jalan pintas. Orang memilih kesimpulan instan agar tidak perlu berpikir lebih jauh. Padahal realitas jarang sesederhana itu. Kebenaran tidak selalu nyaman, dan kebohongan sering terasa aman. Maka tidak heran jika banyak orang memilih keyakinan yang menguatkan ego, bukan yang menantangnya.

Di tengah semua kebisingan itu, menulis menjadi bentuk perlawanan yang sunyi. Menulis adalah menjawab kegelisahan, apa pun yang ditulis setidaknya yang paling penting adalah buat diri sendiri. Terserah mau orang ikut nimbrung tau maksudnya apa atau kaga. Menulis bukan untuk menjelaskan dunia, tapi untuk merapikan pikiran yang berantakan di kepala.

Tulisan tidak selalu mencari pembenaran. Kadang ia hanya ingin jujur. Jujur pada rasa lelah, pada kebingungan, pada kontradiksi yang tidak selesai. Dalam tulisan, seseorang bisa berdiri tanpa harus memilih pihak, bisa bertanya tanpa harus menjawab. Dan itu sudah cukup untuk bertahan satu hari lagi.

Namun seiring waktu, kompleksitas tidak bisa dihindari. Semakin kompleks arsitekturnya, semakin harus meningkatkan pengetahuan fundamental. Karena hasilnya akan lebih parah kalau hanya modal bernostalgia tanpa melihat kembali why di dalamnya. Tanpa fondasi, bangunan hanya akan jadi monumen rapuh yang runtuh saat diuji.

Banyak kegagalan bukan karena kurang canggih, tapi karena lupa alasan awal. Sistem dibangun tanpa memahami esensi, relasi dijaga tanpa memahami tujuan, keyakinan dipertahankan tanpa memahami makna. Dan ketika semuanya runtuh, yang disalahkan adalah keadaan, bukan kelalaian memahami dasar.

Mungkin itulah kenapa rasa aman bisa menjadi musuh terbesar. Ia membuat kita berhenti bertanya, berhenti belajar, berhenti waspada. Ia membujuk kita untuk percaya bahwa apa yang ada hari ini akan tetap ada besok. Padahal hidup tidak pernah memberi garansi semacam itu.

Pada akhirnya, manusia hanya bisa memilih: tetap sadar dalam ketidakpastian, atau nyaman dalam kebutaan. Takdir akan tetap berjalan, akibat akan tetap datang. Yang membedakan hanyalah kesiapan batin saat semuanya tiba. Dan mungkin, di sanalah letak spiritualitas yang paling jujur, bukan pada apa yang diklaim, tapi pada bagaimana seseorang tetap hadir, bahkan ketika rasa aman itu akhirnya runtuh.