Riak yang Tidak Pernah Benar-Benar Tenang

Usah berteriak dengan lantang. Karena pada nyatanya, sekasar itu pikiran yang dibentuk, racun menjadi riak dalam darah. Tidak semua kebisingan adalah keberanian, dan tidak semua diam adalah kelemahan. Ada pikiran-pikiran yang terbentuk bukan dari luka besar, tapi dari bisikan kecil yang diulang terlalu lama sampai akhirnya mengendap dan merusak dari dalam.

Kadang yang paling berbahaya bukan kata-kata yang diucapkan, tapi asumsi yang dibiarkan hidup tanpa koreksi. Pikiran yang kasar tidak selalu terlihat kasar di luar. Ia bisa hadir dalam senyum, dalam gestur yang sopan, dalam kalimat yang terdengar netral. Tapi di dalam, ia bekerja perlahan, mengubah cara melihat, mengaburkan empati, dan membenarkan tindakan yang seharusnya dipertanyakan.

Bila mengingat tentang jernihnya air hujan yang berasal dari awan yang hitam, ada paradoks yang sulit dihindari. Sesuatu yang bersih tidak selalu lahir dari sumber yang terang. Kadang justru dari kegelapan, dari tekanan, dari awan berat yang menahan terlalu banyak muatan. Dan mungkin manusia pun seperti itu, melahirkan kejernihan setelah melewati proses yang tidak selalu indah.

Di tengah semua itu, ada momen-momen kecil yang terasa berbeda. Kehadiran yang menyembuhkan, dalam nuansa konteks periferal. Tidak selalu datang sebagai solusi besar, tapi sebagai keberadaan yang tidak menuntut. Kehadiran yang tidak menghakimi, tidak mengintervensi, hanya ada. Dan entah kenapa, itu sering kali cukup untuk membuat napas terasa lebih ringan.

Namun keinginan jarang datang dalam bentuk yang jujur. Sedikit dirunah, untuk mengentalkan keinginan. Membelot “padahal” yang tak wajar. Rasionalisasi dibuat rapi, alasan disusun berlapis-lapis, sampai kebohongan terasa seperti kebenaran yang masuk akal. Manusia pandai sekali mengedit niatnya sendiri agar tetap bisa tidur nyenyak.

Di titik itu, ironi mulai terasa lucu sekaligus pahit. Ada hal-hal yang seharusnya sederhana, tapi dibuat rumit agar tidak terlihat salah. Ada pula yang jelas salah, tapi dibungkus panjang lebar supaya tampak wajar. Dunia tidak kekurangan kecerdasan, tapi sering kekurangan kejujuran.

Dan entah kenapa, di tengah semua kerumitan itu, sebuah nyanyian justru terasa paling jujur. Nyanyian ini sih:

tak menyangka
kalo lo seburuk itu
tak terlintas dalam benak gue
tuk berfikir kalo lo seorang cepu
dipikir-pikir
gue sama elo
ga pernah sedikit ada urusan
ga pernah bikin lo sakit hati

Lirik sederhana, tapi menampar. Karena kekecewaan sering datang bukan dari musuh, tapi dari orang yang bahkan tidak kita anggap bagian dari konflik.

Kadang yang menyakitkan bukan pengkhianatannya, tapi absurditasnya. Tidak ada motif jelas, tidak ada sejarah panjang, hanya keputusan sepihak yang merusak sesuatu yang bahkan tidak pernah dibangun bersama. Di situ, logika berhenti bekerja, dan rasa hanya bisa terdiam.

When the truth is no longer hidden, now people hide themself from the truth ????. Kalimat itu terdengar ringan, bahkan lucu, tapi menyimpan sindiran yang dalam. Ketika kebenaran akhirnya muncul ke permukaan, reaksi pertama bukan menerima, melainkan menghindar. Bukan karena tidak tahu, tapi karena terlalu sulit mengakui.

Manusia sering lebih nyaman hidup dengan versi realitas yang sudah disaring. Fakta boleh ada, asal tidak mengganggu posisi. Kebenaran boleh diakui, asal tidak menuntut perubahan. Dan ketika kebenaran mulai menuntut tanggung jawab, pura-pura menjadi tameng paling aman.

Analisis? Framing doang, udah basi ama pura-puranya. Semua bisa dijelaskan dengan sudut pandang, dengan narasi, dengan konteks yang dipilih sepihak. Tapi pada akhirnya, rasa tidak bisa dibohongi. Ada yang tetap terasa ganjil, ada yang tetap menusuk, meski sudah diberi seribu pembenaran.

Yang paling melelahkan adalah menyaksikan pola itu berulang. Orang-orang yang sama, cara yang mirip, hasil yang serupa. Seakan kejujuran selalu datang terlambat, dan ketika datang pun, sudah tidak lagi dibutuhkan oleh mereka yang memilih menutup mata.

Mungkin karena itu, berteriak tidak lagi relevan. Diam bukan berarti kalah, tapi memilih tidak ikut menyuburkan kebisingan. Karena tidak semua riak perlu dibalas dengan gelombang. Ada racun yang lebih baik dibiarkan mengendap sendiri, sampai akhirnya kehilangan daya rusaknya.

Dan di antara awan hitam dan hujan yang jernih, di antara kebohongan dan kebenaran yang dihindari, manusia tetap berjalan. Tidak selalu dengan keyakinan, tapi dengan kesadaran bahwa memahami tidak selalu berarti memaafkan, dan mengetahui tidak selalu berarti harus menjelaskan. Kadang, cukup tahu, lalu memilih menjauh dengan tenang.