Lojika gue berpendapat seperti ini, ketika seseorang telah melakukan kesalahan, maka orang itu akan menjadi bersalah, bukan hanya waktu itu saja, namun lebih kepada hal bahwa dia akan tetap terus bahkan selalu menjadi yang bersalah. Akan banyak yang membela pendapat ini dengan alasan kepala jernih, akan banyak orang disekelilingnya yang membencinya, dan akan banyak rasa yang akan terkubur bersama orang yang melakukan kesalahan tersebut. Ini bukan pendapat dingin. Ini juga bukan menyertai karangan tulisan yang menjadikan satu kesatuan dalam postingan gue.
Kesalahan manusia umumnya dibenci oleh manusia manusia lain, akan menjadi baik jika kita menyembunyikan selembar daun ditengah hutan. akan lebih baik kita menyembunyikan keburukan dari kumpulan manusia yang tidak sepenuhnya akan mencoba mengerti, memahami, dan meresapi apa yang telah terjadi. Manusia umum yang berperasaan dengan egonya juga akan langsung menyimpulkan sesuatu yang kemungkinan dalam benaknya adalah seekor udang yang bersembunyi dibalik batu. Diantara semua itu, ego bukanlah tantangan besar manusia akan suatu kebenaran, karena dia akan berperan bersama perasaan yang dimiliki. terkadang, ego banyak selalu disalahkan, namun sepertinya, menurut gue peribadi ini adalah kebenaran yang bisa digapai. Memang benar Ego adalah suatu paham ke-AKU-an. Namun begitu, apakah banyak manusia yang tidak seperti itu? apakah manusia akan lebih memilih membuat keputusan rekomendasi disaat melihat kesalahan dari orang sekitarnya yang padahal itu bukan gayanya, dan itu bukan dia sebenarnya? apakah banyak orang yang ingin menjadi apa yang ingin dia gapai dan tidak berlaku wajar, standar manusia, dan menjadi diri sendiri?