Perasaan Ego dan Lojika Statis

egoLojika gue berpendapat seperti ini, ketika seseorang telah melakukan kesalahan, maka orang itu akan menjadi bersalah, bukan hanya waktu itu saja, namun lebih kepada hal bahwa dia akan tetap terus bahkan selalu menjadi yang bersalah. Akan banyak yang membela pendapat ini dengan alasan kepala jernih, akan banyak orang disekelilingnya yang membencinya, dan akan banyak rasa yang akan terkubur bersama orang yang melakukan kesalahan tersebut. Ini bukan pendapat dingin. Ini juga bukan menyertai karangan tulisan yang menjadikan satu kesatuan dalam postingan gue.

Kesalahan manusia umumnya dibenci oleh manusia manusia lain, akan menjadi baik jika kita menyembunyikan selembar daun ditengah hutan. akan lebih baik kita menyembunyikan keburukan dari kumpulan manusia yang tidak sepenuhnya akan mencoba mengerti, memahami, dan meresapi apa yang telah terjadi. Manusia umum yang berperasaan dengan egonya juga akan langsung menyimpulkan sesuatu yang kemungkinan dalam benaknya adalah seekor udang yang bersembunyi dibalik batu. Diantara semua itu, ego bukanlah tantangan besar manusia akan suatu kebenaran, karena dia akan berperan bersama perasaan yang dimiliki. terkadang, ego banyak selalu disalahkan, namun sepertinya, menurut gue peribadi ini adalah kebenaran yang bisa digapai. Memang benar Ego adalah suatu paham ke-AKU-an. Namun begitu, apakah banyak manusia yang tidak seperti itu? apakah manusia akan lebih memilih membuat keputusan rekomendasi disaat melihat kesalahan dari orang sekitarnya yang padahal itu bukan gayanya, dan itu bukan dia sebenarnya? apakah banyak orang yang ingin menjadi apa yang ingin dia gapai dan tidak berlaku wajar, standar manusia, dan menjadi diri sendiri?

Studi kasus gue terealisasi ketika saat gue mengalaminya sendiri. gue sendiri ketika dihadapkan dengan sesuatu yang benci, gue akan terus membencinya, meski terkadang mendekatinya, menggunakannya bahkan terlihat seperti gue tidak memikirkan hal itu, namun sebetulnya dalam diri, gue sengaja membuat kesan seakan-akan gue Innocence dengan hal tersebut dan tidak akan memperpanjang keadaan. Kemungkinan, tindakan ini akan menuai kesan munafik buat diri gue, tapi menurug gue ini adalah pembelaan. Terkadang berbohong itu harus gue gunakan. Dua Alasan penting kenapa manusia hanya berdiam diri ketika ditanyakan sesuatu adalah karena dia benar benar tidak tahu jawabannya dan tidak ingin membuat orang lain tersakiti. begitu juga dengan kebohongan yang tertanam dibalik kebisuan. Gue malah lebih membenci dengan ketidak konsistenan sekitar gue, entah kenapa dia mengumbar umbarkan rasa bahwa dia tidak pernah membenci apapun dan siapapun didunia ini, namun ketika dia dihadapkan kasus seperti itu, dia menjadi pembenci. selain itu, dia juga malah merekomendasikan sesuatu yang disalahkan dan tidak menganggapnya terjadi apa-apa lagi. apa maksudnya itu? apakah memilih untuk tidak membanding bandingkan sesuatu ketika dia menyukainya adalah wataknya? dan ketika dia dilibatkan dengan sesuatu itu dia malah selalu mencari kebenaran dengan apa yang sudah dia lakukan. Pikirkan apa yang menjadi bawaanmu, apa yang akan kamu gunakan antara Perasaan Ego yang dimiliki oleh standar banyak manusia atau lojika statis yang berpendirian.

Tinggalkan Balasan