Pijakan yang “jatuh”

Kenapa segitu teganya sama gue? Apa karena gue udah terlalu jatuh begini, sampai-sampai gampang dijadikan pijakan? Dipijak dengan ringannya, seolah gue cuma sekadar alas yang nggak punya perasaan. Mereka berdiri di atas gue, tanpa ragu, tanpa nanya, tanpa ngeliat ke bawah.

Kadang gue ngelihat mereka dengan tampang lugu, pura-pura nggak ada yang terjadi. Seakan-akan semuanya baik-baik aja. Tapi gue tahu, mereka sadar. Mereka sadar bahwa pijakan mereka adalah luka gue. Bahwa langkah mereka adalah berat yang gue tanggung sendiri.

Tapi, apa gue bisa nyalahin mereka sepenuhnya? Atau ini semua salah gue, yang terlalu sering ngizinin diri gue buat jatuh begitu dalam? Buat nurunin ekspektasi sampai titik di mana orang lain ngerasa gue cuma tempat pelarian, tanpa mikirin gue juga punya batas. Gue kasih ruang, gue kasih waktu, tapi akhirnya itu malah jadi alasan buat orang ngerasa berhak mengambil lebih dari yang gue sanggup beri.

Tak akan ada yang tahu hingga semuanya terlambat. Sampai saat gue nggak lagi ada di sana, sampai suara gue berhenti terdengar, sampai apa yang biasa mereka pijak tiba-tiba nggak lagi bisa menopang. Tapi, apakah itu akan mengubah apa-apa? Atau mereka cuma bakal cari pijakan lain, dan gue tetap jadi bagian yang hilang tanpa ada yang peduli?

Kadang, gue kepikiran. Jika gue udah mati nanti, semoga cepat terjadi, gue pengen mengganti beberapa kata menjadi peninggalan yang tak kasat mata. Kayak kalimat ini, “Tak akan ada yang tahu hingga semuanya terlambat.” Kalimat itu bukan sekadar ucapan. Itu kenyataan yang gue rasain tiap hari. Gue pengen kalimat ini tetap ada, bahkan ketika gue udah nggak ada. Karena siapa tahu, mungkin akhirnya ada yang sadar.

Mungkin ini cara dunia bekerja. Yang jatuh selalu jadi alas untuk yang di atas. Yang kuat harus terus kelihatan kuat, karena kelemahan mereka bisa merusak keseimbangan yang dibuat-buat. Tapi masalahnya, gue nggak kuat. Gue cuma kelihatan begitu. Gue cuma pura-pura buat bikin semuanya lebih gampang,buat mereka, bukan buat gue.

Gue sering mikir, apa gue salah kalau gue pengen berhenti? Kalau gue pengen berhenti jadi “yang selalu ada”? Karena jujur aja, gue lelah. Gue capek jalan sambil bawa semua rasa sakit ini sendirian. Tapi di sisi lain, gue nggak tahu gimana caranya berhenti. Gimana caranya ngomong bahwa gue butuh ruang, tanpa takut dianggap lemah, tanpa takut kehilangan apa yang masih gue punya.

Kadang gue iri sama mereka yang bisa bilang “cukup.” Yang bisa berhenti dan tetap dihargai. Tapi gue? Bahkan ketika gue ngeluh, gue nggak didengar. Bahkan ketika gue minta tolong, gue cuma dianggap berisik. Jadi, akhirnya gue diam. Gue tahan semua. Gue biarin semuanya terus berjalan seperti biasa, meskipun gue tahu di ujungnya gue bakal sendirian lagi.

Tapi mungkin, sendirian itu lebih baik. Mungkin dengan sendiri, gue nggak perlu lagi pura-pura kuat. Gue nggak perlu lagi jadi pijakan buat orang lain. Tapi apa benar itu jawabannya? Gue nggak tahu. Dan mungkin gue nggak akan pernah tahu, sampai gue benar-benar berhenti peduli.