Resiko baru menjadi pemeran

Saat semua hal dianggap sebagai penghujung perjalanan, penghubung antara scene kisah dengan kisah lain yang sebenarnya tidak memiliki relevansi, cerita yang sengaja dibuat bersanggup namun sebenarnya hanya memulai dengan karakter baru pada perjalanannya. NPC, non player character. Buta akan skema dan hanya berfokus pada script atau tupoksi yang dijabarkan diawal saja. membabi buta mengikuti arahan tanpa tau maksud dan tujuannya, menjadi tumbal dari keinginan yang namanya purayer.

Tidak suci, namun sayangnya dosa dan pahala sengaja diabaikan demi keberlangusngan. tidak ada unsur imajinatif agama yang diembel-embel dan murni kepentingan. muak dengan segala kata risiko padahal aslinya ia dapat memulai lagi semuanya dari awal. padahal sebenarnya ia ingin dimaklumi atas segala tingkah. mengingat seluk beluk kesalahan yang mungkin saja bisa dianggap sebagai bug namun dengan seenakjidatnya memulai ulang segalanya dengan feel baru namun dengan skema yang sama dan alur yang tidak pernah berbeda. tujuan merupakan titik akhir dari pembebasan cerita. akankah itu diragukan? atau akankah setidaknya itu dipertanyakan kenapa masuk pada segmentasi lojik dan alur yang selalu sama? bodoh ya bodoh saja.

Pernah menjadi bagian dari semesta yang turut menjadi penghantar melalui sambungan doa, makanan dewa agar mereka dapat hidup dan memiliki energi dan kekuatan untuk mengatur. berucap tak memiliki toleransi atas kesalahan namun sering menggambarkan riwayat ego yang fatal untuk dimaklumi. maklumi? apakah paragraf pertama adalah benar? apakah semuanya adalah NPC? apakah bisa dianggap bahwa lu atau tuhan yang sedang bermain dan menjadi karakter unik dalam bumi bulet bak bebatuan kecil di galaksi mati tak bertuhan.

Inikah yang disebut sebagai pemeran? maksudnya pemeran pengganti dalam siklus perubahan aktifitas yang ditulis secara acak namun harus ada untuk memiliki kesan plegmatis, hanya sebagai bumbu bahwa ceritanya dunia tak akan pernah baik-baik saja. Mahagembel dengan segala aturan kesesatannya