Kebaikan. Kata yang sering terdengar, sering diajarkan, tapi entah kenapa jarang benar-benar dipakai. Seperti baju bagus di lemari, yang hanya diambil saat momen-momen tertentu, lalu disimpan kembali sampai berdebu.
Gue nggak bilang kebaikan itu nggak ada. Kebaikan selalu ada. Tapi, kebaikan sering kali seperti barang mahal,hanya dikeluarkan ketika kita yakin akan ada balasan yang sepadan. Kita terlalu sering menimbang-nimbang: apakah kebaikan ini layak dilakukan? Apakah gue akan rugi kalau melakukannya? Atau bahkan, apakah kebaikan gue bakal dianggap tulus atau justru dianggap modus?
Gue sadar, hidup ini nggak sesederhana dongeng atau cerita moral di buku sekolah. Di dunia nyata, ada banyak alasan kenapa kebaikan jadi sesuatu yang “langka.” Kadang, itu karena kita takut dimanfaatkan. Takut bahwa apa yang kita beri nggak akan dihargai. Takut bahwa kebaikan itu sendiri justru jadi kelemahan.
Tapi, apa itu benar? Apa benar kebaikan harus dihitung-hitung sebelum dilakukan? Apa benar kita harus memastikan bahwa kebaikan itu “menguntungkan” dulu sebelum memutuskan untuk bertindak?
Dulu, gue kira gue akan menjadi mati jika nggak baik. Makanya semaksa itu, sekekeh itu. Dalam hati, gue menganggap diri gue orang yang paling sabar dan ikhlas. Tapi, untuk orang lain, artinya nggak jauh beda dari orang goblok yang selalu lembek untuk dimanfaatkan.
Berulang kali dianggap tak apa-apa, gue bertahan dalam kesendirian dan keputusasaan. Mencoba menolong, membantu, dan mengobati banyak luka akibat ulah bukan gue sendiri. Nepa bagai rasa yang dipindahkan dan sirna begitu aja.