Beberapa hal diciptakan bukan untuk dimengerti, hanya untuk dirasakan, lalu hilang. Sama halnya dengan perasaan yang datang tiba-tiba, tanpa aba-aba, dan pergi tanpa penjelasan. Cinta misalnya, kadang diperkenankan sebagai suatu ilusi yang dibuat biar nggak takut sama yang namanya kesepian. Bukan karena ingin memiliki, tapi hanya ingin tahu bahwa masih ada yang bisa menggenggam saat malam terasa terlalu dingin. Tapi ilusi itu, kalau dibiarkan terlalu lama, bisa berubah jadi harapan. Dan harapan, seperti biasa, jarang berpihak.
Dalam hidup, banyak hal yang tidak pernah bisa direncanakan. Termasuk siapa yang datang dan siapa yang pergi. Kadang sudah dijaga, dijemput, diperjuangkan, tapi tetap saja menghilang seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Lalu yang tertinggal hanya diri sendiri, dengan tanya-tanya yang tidak tahu harus dilempar ke siapa. Sering kali bukan soal kehilangan orangnya, tapi kehilangan diri sendiri di tengah proses itu yang jauh lebih menyakitkan. Dan tidak semua kehilangan bisa diobati waktu. Ada yang justru makin terasa nyata seiring waktu berjalan.
Kesepian itu bukan karena tidak ada orang, tapi karena tidak ada yang benar-benar hadir. Dunia bisa ramai, notifikasi bisa banyak, suara bisa terus berdengung karena emang pada dasarna didalam kepala tetap sepi. Dan sepi itulah yang sering membuat jatuh cinta. Bukan spesifik pada yang namanya orang, tapi pada kemungkinan diselamatkan. Maka tak jarang berpura-puraikut bermain dalam cerita yang tidak ditulis sendiri. Berharap akhir yang manis dari naskah yang bahkan tidak tahu siapa pengarangnya.
Semua penggambaran mencerminkan dan merefleksikan pada suatu luka, luka yang layaknya guru, tapi ya emang pelajarannya pahit banget. Kadang terlalu pahit sampai-sampai untuk berpura-pura untuk nggak ngerti apa maksudnya. Tapi yang lucu, pelajaran dari luka itu selalu ngikut. Setiap mau mulai sesuatu yang baru, muncul lagi bawa catatan lama. Mengingatkan, kadang juga menakut-nakuti. Tapi justru dari sanalah pembentukan terkait mengetahui batas dibuat. Tahu kapan harus berhenti, kapan harus menyerah, dan kapan harus belajar menerima bahwa tidak semua yang kita inginkan harus dimiliki dan yang lebih penting selalu tahu bahwa ekspektasi pada hal ciptaan tuhan tak pernah bisa diandalkan.
Ada hal-hal yang tidak butuh jawaban, hanya butuh diterima. Misalnya, kenapa orang baik bisa disakiti? Atau kenapa seseorang yang sudah mencoba segalanya tetap tidak dipilih? Semua itu bukan soal layak atau tidak, tapi soal waktu dan arah. Dan sering kali, arah yang dituju tidak pernah sejalan dengan arah yang dunia siapkan. Maka bertabrakan pun tidak bisa dihindari. Yang bisa dilakukan hanya memperkecil luka ketika benturan datang, dan mengurangi ekspektasi agar jatuhnya tidak terlalu keras.
Beberapa hal datang dalam hidup bukan untuk tinggal, tapi untuk mengacaukan. Bukan untuk memberi pelukan, tapi memberi jarak agar tahu betapa perihnya berjalan mau itu bergerombol layaknya cewe gajelas atau sendirian. Dan saat tuhannya terasa pergi, bukan berarti itu salah. Mungkin memang yang terlalu berharap bahwa semua orang punya niat yang sama seperti mencinta dengan cara yang utuh atau mengagumi dengan cara yang amat buta. Padahal tidak semua orang tahu cara mencinta. Beberapa hanya tahu cara menyenangkan dirinya sendiri, dengan ego yang selalu diiringi dan diperbarui setiap bangun tidur atau bertambah seiring visual masuk dan dicerna dari scroll scroll akun sosial kayak ig atau tikotok.
Tumbuh dengan ide bahwa cinta adalah hal baik. Tapi tidak ada yang bilang bahwa cinta juga bisa jadi racun. Cinta bisa membuat seseorang bertahan di tempat yang menyakitinya. Bisa membuat seseorang lupa pada siapa dirinya. Bisa juga membuat seseorang rela menjadi versi yang ia sendiri tidak kenali, hanya demi dilihat dan diterima. Di titik itu, cinta bukan lagi soal saling. Tapi soal siapa yang lebih dulu habis.
Ada yang membuat sesuatu merasa dilihat, didengar, dipahami. Tapi setelah pergi, justru membuatnya menjadi tidak lagi bisa merasa yang sama pada hal apapun. Datang sebagai pelengkap, tapi pergi sebagai kekosongan,mengisi celah yang tidak pernah mungkin bisa sadari, lalu mencabutnya sampai meninggalkan lubang. Lubang itu tidak bisa diisi ulang, hanya bisa diterima sebagai bagian dari struktur diri yang baru. Ada versi yang ikut mati saat sesuatu dibiarkan pergi.
Bukan berarti semua hal terkait kecintaan dan kesunyian itu menyakitkan, iya gua setuju. Tapi beberapa cinta memang datang bukan untuk dibalas. Kalau dianalogikan seperti halnya manusia. Ia hanya mampir dan memberi rasa, lalu hilang begitu saja. Dan tugasnya sebenernya bukan untuk menggenggamnya terus, tapi untuk belajar merelakannya seperti angin yang lewat dan hanya menyisakan bau hujan yang sebentar. Itu pun kalau beruntung. gimana kalo engga? dodonanan
Semua orang ingin dimengerti. Tapi tidak semua tahu cara menjelaskan. Maka banyak yang memilih diam, menyembunyikan rasa, dan berharap ada yang bisa mengerti hanya dari tatap mata yang murung. Tapi kenyataannya, tidak ada yang bisa membaca isi hati seakurat itu. Jadi yang tertinggal hanyalah ekspresi yang salah diterjemahkan, dan perasaan yang tidak sempat tersampaikan.
Lama-lama menjadi belajar untuk tidak terlalu berharap pada siapa pun menjadi acuan. Bukan karena ingin jadi dingin, tapi karena tidak ingin lagi patah karena hal yang sama. Kita mulai paham bahwa yang paling bisa diandalkan hanya diri sendiri. Dan dalam kesadaran itu, tumbuh semacam ketenangan walau kadang terasa dingin sekali.
Dan kalaupun nanti cinta datang lagi, mungkin bukan dalam bentuk puisi atau rayuan. Tapi dalam bentuk kehadiran yang konsisten, dalam diam yang tidak membuat gelisah, dan
dalam pelukan yang tidak menjanjikan apa-apa selain kata “aku di sini” njir wkwkwk. Itu saja sudah cukup untuk tidak merasa sendirian di dunia yang penuh suara, tapi sedikit sekali yang benar-benar mau mendengar. sesuatu yang abstraksi ini entah kenapa jadi nyambung seakan-akan gua ngomongin kecintaan terhadap makhluk manusia