Pernah nggak sih kalian diselimuti sama rasa bingung yang amat sangat? Ya, maksudnya bingung yang membingungkan. Perasaan bingung yang tanpa diketahui penyebabnya yang berujung menjadi galau. Gimana rasanya? Pusing kah? Jadi nggak mood kah? Apapun yang kita lakuin rasanya serba salag, serba nggak pas. Ujung-ujungnya, kita Cuma bisa diam dan hanya memikirkan hal yang tanpa sebab itu. Pengen curhat. Nyeritain kegalauan itu ke orang lain. Pengen orang lain denger dan tau supaya kita nggak ngerasa sendiri nanggung hal itu. Tapi entah, gimana cara nyampeinnya supaya orang itu mengerti apa yang kita rasain, sementara kita yang merasakannya aja nggak tau apa-apa. Emosi, kesel, pengen nangis tapi nggak bisa, macem-macem jadinya. Terus, kalo kita udah nyampein ke seseorang dan ternyata tanggepan orang itu Cuma “ah, itu hal biasa” atau “gimana sih? Kan lo yang ngerasain” atau dia hanya mendengar, entah mengerti atau tidak. Biasanya, yang dibutuhkan adalah solusi atau hiburan supaya kita bisa ngelupain kebingungan itu buat sementara. Tapi kalo nyatanya yang kita dapet nggak sesuai sama yang diharapkan gimana? Disaat seperti itu, biasanya kita butuh seseorang yang berempati. Yaps, meskipun orang tersebut nggak bisa ngasih solusi buat kita, tapi seenggaknya ketika dia mendengar dengan baik dan merespon dengan melontarkan sebuah pertanyaan, itu cukup membuat kita merasa kalo dia peduli sama kita. Orang yang sedang mengalami hal seperti itu butuh teman. Bukan malah dicemooh dengan melontarkan kata-kata seperti “hareee genee masih galauu??” atau dengan mengacuhkannya begitu saja. Inget yaa, kita nggak selalu ngerasain yang namanya seneng, saat kita sedih, galau, bingung, kita pasti butuh yang namanya temen. Begitu juga sebaliknya. Simbiosis Mutualisme. “seneng dan sedih itu datengnya satu paket, dan tanpa terduga”.
Duh, kok kayaknya makin lama yang diomongin makin ngaco. Yaudah, segini aja dulu yaa.. 