Ada apa dengan gue?

IKBAL (26)Akhir-akhir ini, gue memiliki keraguan yang sulit gue pecahkan, perasaan ini meski gue paksa untuk tetap ada dalam hati gue, tapi gue enggak bisa yakin kapan semua ini akan berjalan sesuai rencana gue. Terkadang, gue selalu berpikir ini adalah paksaan dengan tindakan gue risih dan selalu ingin menghindarinya. didalam satu pekan, gue selalu bertemu, dalam hati gue selalu meyakinkan diri gue bahwa inilah yang akan gue pilih untuk jalan gue kedepan, namun gue mulai merasa gelisah dan ogah ketika mendengarnya lagi, lagi, lagi dan lagi. Ya, pertemuan ini juga sudah didesain seapik mungkin bersamaan dengan sesuatu yang gue bangga-banggakan, entah bagaimana gue harus menyikapi semuanya karena yang jelas secara tidak langsung gue selalu berpikir mungkin pikiran gue tambah kacau kalo gue enggak mengatakannya. Agar tidak terjadi kesalahpahaman yang membuat agan dan sista repot tentang rasa ini, mari lanjutkan ke spoiler intip dibawah ini.

Gue enggak yakin dengan model perasaan rumit seperti apakah ini, gue enggak bisa mengartikan apapun secara detail, dan gue juga enggak mengerti apa yang sebenernya hati gue rasain, gue mulai terenyuh sama pilihan ini. Gue enggak menyesal dengan jalan yang dari awal udah gue ambil, tapi gue juga enggak tau apakah ini perasaan wajar atau tidak untuk gue, biarkan gue menjelaskannya.
Pada hari Selasa di Semester Satu perkuliahan gue, ini adalah hari belang yang selalu gue rasain. Sistem mencampuradukkan kebahagiaan gue sama hal yang membuat gue jadi mulai melemas. Pasalnya hari selasa adalah hari dimana gue mendapatkan empat mata kuliah. Mulai dari Akutansi, Konsep Sistem Informasi yang dilakukan di Laboratorium Komputer, Matematika Bisnis dan Juga Konsep Sistem Informasi. Dari dulu, gue enggak suka sama yang namanya Model Akutansi ataupun Matematika, mau didesain seperti apapun itu sebab dari masa gue sekola dulu, gue mengakui bahwa gue keseringan bolos dengan materi pokok ini. Karma telah menghukum gue dan takdir tengah menertawakan keteguhan prinsip gue saat ini, saat ini ketika gue menyadari bahwa hal yang penting untuk pencapaian lulus dengan takdir ajaib dan baik di kampus gue adalah dengan menggado Algoritma dan Akutansi, sebab Kampus yang gue singgahi memang untuk hal itu. Gue selalu optimis gue harus bisa menyukai dan mencintai pelajaran Matematika dan Akutansi sebab sangat lucu jika ada seorang Programmer yang malah tidak dapat bereaksi apa-apa ketika bertemu dengan hitungan-hitungan. Gue mulai mencoba menyukainya, namun ketika gue menjalaninya gue merasa amat keberatan dan kewalahan, disamping gue bukan orang yang cepat melebur pada tahap sosial dengan sekitar gerombolan manusia dikelas gue, jadi semuanya mulai menghambat pertumbuhan otak gue. Gue tau solusi yang tepat adalah meminta bantuan, belajar bareng bersama orang yang menurut gue sudah biasa dan sudah netral, namun hingga saat ini tak satupun takdir baik yang memihak gue, gue terkekang dengan yang namanya prinsip mematematikai dan mengakuntansikan sesuatu untuk jalan hidup gue, bahkan sampai saat ini gue masih hanya melarikan diri dari kedua pelajaran itu, bagaimana gue bisa mengatasi hal ini? Ada apa dengan gue? gue jadi nyaris terlihat kosong ketika mendengar dua variabel ini

Tinggalkan Balasan