Ada 3 orang yang gua blacklist seumur hidup gua. Keputusan itu nggak lahir dari emosi sesaat, tapi dari akumulasi kejadian yang terlalu dalam buat dimaafkan. Bahkan meskipun yang namanya Tuhan turun dan ngasih justifikasi serius ke gua, bodo amat. Bukan karena gua ngerasa paling benar, tapi karena ada batas yang kalau dilangkahi, dampaknya bukan lagi marah, melainkan rusak. Ikut campurnya keterlaluan, dan di titik itu gua sadar: trauma bukan sesuatu yang bisa diselesaikan dengan nasihat.
Gua trauma dan shock sama yang namanya ditinggal mati. Bukan karena takut kehilangan, tapi karena terlalu sering dipaksa belajar tanpa persiapan. Kenapa? Gua nggak takut mati, tapi kenapa harus sengaja nunjukin orang? Kenapa pelajarannya selalu lewat perpisahan permanen? Seolah-olah semesta terlalu gemar menunjukkan batas hidup dengan cara paling ekstrem, tanpa peduli apakah yang ditinggal siap atau tidak.
Beberapa hal yang tertuang sebelumnya itu bukan sekadar kalimat aneh, tapi rasa yang tumbuh dari pengalaman berulang. Akhir tidak pernah benar-benar akhir, tapi dampaknya terasa lebih kejam dari kata “selesai”. Karena yang berakhir bukan hanya hubungan atau keberadaan, tapi cara melihat dunia. Setelah itu, semuanya terasa sedikit lebih dingin, sedikit lebih jauh, dan jauh lebih sulit dipercaya.
Ada fakta lain terkait hal-hal sensitif yang menebar perumpamaan panjang. Kadang gua bertanya, apa memang pada dasarnya gua nggak bisa ngasih sedikit pelajaran ke orang ya? Tentang bagaimana hal remeh bisa menjelma penyakit luar biasa. Tentang bagaimana tidak semua orang kuat, dan bagaimana cukup ditunjukin sedikit, lalu ditinggal sama kematian. Seolah hidup ini senang menguji batas empati manusia sampai titik paling kejamnya.
Yang paling menyakitkan bukan kematian itu sendiri, tapi bagaimana ia datang tanpa peduli konteks. Tanpa melihat proses, tanpa menghitung usaha, tanpa menimbang niat baik yang masih setengah jalan. Semua dihentikan begitu saja, seakan hidup hanya tombol yang bisa dimatikan kapan pun. Dan yang ditinggal dipaksa menyusun ulang makna dari reruntuhan yang belum kering.
Kemarahan akan berlalu, tapi kata-kata yang sarkas yang keluar secara cuma-cuma saat amarah meluap akan tetap terpahat dan membekas di hati tujuan. Tak peduli itu amarah yang hanya satu kali terjadi seumur hidup, tak peduli amarah itu nantinya akan membakar-jatuhkan. Kata-kata punya umur yang lebih panjang dari emosi, dan sayangnya, bekasnya sering lebih dalam dari yang disadari.
Kadang gua sendiri bingung. Kenapa sudut pandangan gua selalu tepat akurat dan bener ya? Selalu setiap pesimis datang, dan di saat yang sama gua tetap ngupayain buat terus jalan di bidang batu yang nyakitin. Berharap dengan modal berusaha dan memang berusaha untuk percaya semuanya bisa keubah, tapi selalu berakhir sesuai ekspektasi terburuk. Bak orang goblok, coba nelen bara api padahal udah tau panasnya bakal bakar lidah.
Semua hal, mau itu perjalanan atau upaya yang melibatkan Tuhan, selalu aja nggak pernah berakhir bener. Bukan berarti gua nggak percaya, tapi kelelahan itu nyata. Ada titik di mana doa terasa seperti pengulangan tanpa respons. Seolah iman dipaksa diuji bukan untuk dikuatkan, tapi untuk dilihat seberapa lama bisa bertahan sebelum runtuh. Secara tauhid gua masih meyakini, tapi soal percaya dan soal kebergantungan. lu bisa apa? mau ngocehin gua? tau apa tentang apa yang dialamin?
Simpul berulang bak ouroboros mendarah daging dalam satuan takdir yang melekat. Mungkin dari sejak gua tercatat lahir sebagai manusia di kehidupan yang nggak jelas ini. Pola yang sama, luka yang mirip, akhir yang serupa. Kita pikir sudah keluar dari lingkaran, padahal cuma pindah posisi di lingkaran yang sama.
Setiap karakter dengan berjuta makna hilang karena kebutaan. Bukan kebutaan mata, tapi kebutaan batin. Asap gempul, gemuruh yang nggak jelas arahnya, dan kali ini justru jadi hal yang paling gua benci. Karena kebisingan itu menutupi esensi, membuat semua yang pernah penting jadi samar dan tak bernilai.
Di tengah semua itu, gua sadar satu hal: tidak semua pelajaran memang ditujukan untuk dipahami. Beberapa hanya ditujukan untuk melukai, lalu dibiarkan membentuk manusia menjadi versi yang lebih dingin. Versi yang tahu batas, tapi juga kehilangan kelembutan yang dulu dimiliki.
Ada harga mahal dari bertahan hidup dengan ingatan yang belum selesai. Kita mungkin masih berjalan, masih bekerja, masih tertawa sesekali. Tapi di dalam, ada ruang yang dikunci permanen. Ruang yang nggak mau dibuka lagi, karena terlalu banyak yang mati di sana.
Dan mungkin itulah kenapa blacklist itu ada. Bukan karena dendam, tapi karena upaya terakhir menjaga diri. Karena tidak semua orang layak diberi akses ulang ke luka yang belum sembuh. Karena memaafkan tanpa jarak hanya akan mengulang siklus yang sama, dengan luka yang lebih dalam.
Jika hidup ini memang ditakdirkan berulang, maka setidaknya gua mau memilih di mana harus berhenti. Tidak untuk menang, tidak untuk benar, tapi untuk tetap waras. Karena di dunia yang terlalu sering mengambil tanpa izin, bertahan saja sudah merupakan bentuk perlawanan yang paling jujur.