Ketika jawaban nggak lagi mampu berbicara dengan logika atau niat buat berdebat, seringnya dua kata yang gua dan lu lontarkan adalah “Tuhan” dan “waktu”. Ini jadi pelarian pas gua dan lu kejebak dalam ketidakmampuan buat menjelaskan lebih jauh, atau pas gua dan lu nggak pengen banyak bacot.
Kebutaan bukan cuma kondisi fisik, tapi juga metafora buat keadaan batin yang paham tapi tetap nggak bisa ‘melihat’. Gua mungkin ngerti dan tahu, tapi keadaan ini sering bikin gua sulit untuk bener-bener melihat apa yang seharusnya dilihat.
Mengungkapkan pikiran dan perasaan gua bisa kerasa nggak pernah bener. Gua sering ngerasa bahwa milih diam itu lebih baik daripada ngomong. Tapi, kebisuan ini sering bawa gua ke dalam sesat pikir yang lebih dalam. Mengutarakan, meski penuh risiko, adalah langkah berani yang perlu gua ambil.
Ungkapan yang terdengar ambigu sering meretakkan garis tujuan yang seharusnya lurus jadi percabangan yang kusut dan nggak jelas. Ini dilema komunikasi gua, di mana kata-kata nggak selalu bisa nangkep esensi dari apa yang bener-bener mau gua sampaikan.
Dalam linimasa kehidupan yang nggak kenal akhir, segala sesuatu pada akhirnya akan habis, termasuk kisah yang sekarang gua rangkai. Gua bergerak sejalan dengan prediksi-prediksi yang ada, tapi sering kali terganggu oleh figur-figur aneh yang datang dan pergi tanpa rencana yang jelas.
Rencana? Apa lu pikir gua adalah manusia yang nggak punya pegangan kendali atas rencana? Gua sang perencana! Gua berkutat pada proses yang selalu nggak mereferensikan pada hasil yang dimiliki orang lain. Tenang aja, gua nggak fanatik sama hasil akhir, gua selalu menikmati proses meski itu keiris. Ya, kata bagus yang menyeruak dalam batin yang sesekali ingin gua ucapkan dengan gamblang. Iya, gua mengalami gelisah sepanjang masa.
Bukan berarti gua terlalu suka untuk dibodohi atau diinjak. Meskipun gua diam, gua pendendam. Jadi, hati-hati kalo lu pikir gua ini lemah.
Apapun kata mereka, katakan saja gua orang bodoh. Namun jauh dalam relung hati gua, gua anggap gua orang yang paling tulus. Pandangan orang lain tentang diri gua nggak akan mengubah pandangan gua tentang siapa gua sebenarnya.
Melalui semua kisah ini, gua belajar tentang diri gua sendiri. Tentang gimana gua melihat dunia dan gimana dunia melihat gua. Ini adalah perjalanan yang terus berlanjut, sebuah perjalanan buat memahami makna yang lebih dalam dari segala yang gua alami.