Realitas yang digores

Terkadang hati ini rapuh, terbelah menjadi dua tanpa aba-aba. Seolah rentannya rasa selalu diuji oleh kerikil-kerikil kecil kehidupan yang sengaja ditempatkan di jalan kita. Namun, bukankah semua itu hanyalah bagian dari skema Tuhan yang besar? Gua, yang seringkali bersabar, menanti dengan penuh harap,bahwa semua kebusukan, semua egoisme, akan lenyap pada akhirnya.

Empat kuda putih menarik kereta emas, gambaran otoritas yang tak terbantahkan. Semua tunduk di bawahnya. Tetapi, bahkan kereta emas yang megah sekalipun pernah berselisih dengan dewa laut. Seolah menunjukkan, bahwa kuasa tertinggi pun tak pernah benar-benar bebas dari perpecahan.

Dalam perjalanan ini, harapan seringkali hanya menjadi bayangan singkat. Hidup di bumi yang padat dan berjejalan, menciptakan ilusi tak kasatmata yang memerangkap kita. Pikiran beku, melebihi kekerasan batu, tetap tak mampu dihancurkan meskipun air menetes perlahan.

Dan meskipun sering kali gua merasa menjadi bagian dari chaos ini, ada satu kesadaran yang tak tergoyahkan: Tak pernah ada nyawa yang tidak berguna, kecuali saya. Statemen ini menohok, mengguratkan kerapuhan ego sekaligus kekuatan introspeksi.

Ada nama yang membuat gua tertatih, membawa kehampaan di setiap langkah. Tapi dalam keheningan ini, gua masih mencoba menjadi karakter yang berintegritas,meski berjuang keras menampik masa lalu. Memo terbaik seringkali tak tertulis; mereka tersimpan dalam lubuk hati, di mana semua hal terpendam berdiam dengan sunyi.

Hingga akhirnya, sebuah realitas baru mengguncang kita: bahwa kumpulan bit data, dalam keheningannya, ternyata memiliki efek yang melebihi takdir Tuhan. Sebuah refleksi bahwa manusia kini hidup di dua dunia,dunia nyata dan dunia maya.

Tulisan ini bukan untuk menggurui, tetapi hanya sekelumit memo dari perjalanan hidup. Karena meski dunia ini penuh kehampaan, jangan ngarep makna dalam sebuah perjalanan. karna bisa saja meskipun itu lurus, namun untuk mereka yang mengartikan bumi ini bola bulet, tak akan pernah berujung