Entah berapa lama, kepala ini tidak digunakan untuk menyimpulkan penalaran dan mencari masalah, memburu idealisme yang tinggi yang nampak haus dengan renungan-renungan keabadian. Tak harus suci untuk memulainya, cerita yang dikarang melalui potensi khayal melalui dimensi yang berbeda, mencoba berpikir guna menunjukkan perbedaan yang dimiliki kepada pengguna, merenggut banyak waktu untuk bisa menghasilkan sesuatu. Ya, untuk saat ini, belum ada kepastian dari kuburan jiwa ini, sepertinya ada sesuatu yang masih mengganggu konsentrasi otak kiri, sesuatu yang sulit ditebak dan tak bisa dijangkau melalui bawah sadar ini, sesuatu yang juga menjadi musuh bebuyutan pedoman hidup tak mustinya gue pahami, namun, semenjak waktu berlalu, rasanya gue juga mulai terbiasa dengan kehidupan yang sebenarnya bukan gue banget.
Inilah pencitraan berbeda yang digunakan untuk menangkis sisi sahabat, menanggung banyak asumsi buruk tentang kehidupan meski dari semua perjalanan ini, ada barter dari pengalaman gue. Ini adalah warna yang gue suka, selain ketajaman yang unik, persembunyian yang baik bagai ninja, dan menghilangkan informasi-informasi baku manusia secara umum. Meski begitu gue juga membenci warna ini, ini adalah warna yang gue benci melihatnya, gak peduli siapa yang menggunakannya, gue lebih memilih jika gue menyandang keburukan satu sisi ini, asal mereka tidak menyadari, asal lingkungan tak peduli, setidaknya tak ada yang melihat bahwa gue melakukan hal ini.
Ini adalah instruksi kehidupan dibidang abstraksional. sesuatu yang kasat mata yang mengundang penalaran dari berbagai sisi, banyak logika yang digunakan untuk meraihnya, terkadang benar, terkadang salah. Namun, pencapaian ini bisa kita gunakan ketika kita berusaha. Berbeda dengan manusia, sesuatu yang tidak bisa kita mengerti, maksud dan tujuan yang sedang digunakan. analisis yang rentang juga dapat membunuh para pengamat. Manusia adalah sesuatu yang amat dinamis, sehingga setiap perubahannya tidak bisa kita simpulkan melalui logika. sepertinya perasaan memang sesuatu yang harus kita singkirkan, meski terkadang terdapat rasa sesak yang mematikan, membunuh dan mencederai fungsi indra, namun banyak yang tetap menanggungnya. penderitaan yang sulit diungkapkan melalui bahasa tulisan justru akan merusak pikiran kita, kepala ini rapuh, kepala ini butuh kepastian, kepala ini juga tidak bisa dicampur adukkan dengan urusan hati. Jadi, mohon untuk tidak membanding-bandingkan sesuatu yang bersifat logika dengan yang namanya rasa. itu adalah hal yang menjijikan dan gue membencinya. Gue mulai membencinya ketika gue beranjak menyadari suatu kebenaran, kebenaran yang sangat rasis antara hubungan interaksi manusia dan data.


Pada kesempatan kali ini, gue mau share jurnal gowes gue yang udah gue jalankan beberapa hari yang lalu dari Yogyakarta, tempat dimana gue ngekos sampe yang namanya Solo, tepatnya pas di Kraton, Surakarta. Dengan kondisi diatas, bisa dikatakan ini adalah simulasi yang gue lakuin setelah lama gue enggak bareng ama sepeda gue lagi, yaaaah maklum, setelah kebanyakan mengidap asap rokok dari temen-temen kampus yang membuat gue ngerasa kayaknya paru-paru gue udah gak bersih lagi, akhirnya gue bisa memformatnya kembali dengan agenda dua hari sebelumnya gue keliling ringroad biar gak kaget kagetan lagi, berikut jurnal perjalanan gue:
Terbelenggu, diam dengan masa baru dan menjadikan beberapa aturan menjadi bagian dari kehidupan. Rusak! perasaan bisa saja rusak karena aturan logika yang memiliki banyak simpul yang sulit dipecahkan, sesuatu yang tak bisa dikendalikan dari diri akan mendatangkan dua pemahaman emosi yang berlebihan dan orang-orang akan menyebutnya “terlalu”. kata “Terlalu” tak selamanya menjadikan manusia terbelenggu dengan suatu asumsi sebab umumnya kita dapat merasa “Terlalu senang” dan “terlalu sedih”. intinya emosional kita terbuka dan kita melepas peran logika kita menjadi jam terbang atau bawah sadar kita. Kita mungkin menyadarinya. Namun, suatu kesadaran yang kita pahami sebelum kita menyadarinya waktu itu bukan berasal dari serapan sebenarnya, itu hanya media hipnosis yang memaksa kita merangsang hal baru agar mudah ditoleran tanpa harus disaring melalui dasar logika.