Sumpah gamau keilangan

Emang nggak rela buat kehilangan. Kalimat itu nggak butuh penjelasan panjang, karena ia langsung nempel di dada. Kehilangan bukan soal besar atau kecilnya sesuatu yang hilang, tapi soal keterikatan yang diam-diam tumbuh dan jadi bagian dari diri. Ada hal-hal yang mungkin kelihatan remeh buat orang lain, tapi ga buat diri sendiri, ia adalah ruang aman, tempat pulang, dan saksi hidup yang tidak pernah menuntut apa-apa.

Dan mana pas banget tanggal barusan, inget ya barusan banget dan masih di 31 desember 2025 ini, hari terakhir di tahun ini. Waktu di mana seharusnya orang sibuk menutup cerita dengan pesta atau refleksi ringan, tapi justru datang satu kejadian yang bikin mata terbelalak. Capek iya, badan berat, dan matahari bahkan belum keliatan bentukannya. Langit masih gelap, anyep dan ayam sudah mulai berkokok, karena memang masih sesunyi itu. Sunyi yang bukan tenang, tapi sunyi yang menggantung.

Jam 05:07, sebuah email masuk. Isinya dingin dan singkat, memberi tahu bahwa ada aktivitas masuk ke akun. Padahal sebelumnya gua sudah sempat curiga karena ada percobaan login nggak wajar, dan si X terus-terusan ngirimin email kode verifikasi. Awalnya gua santai. Nomor hape aman, email aman, semua masih di tangan gua. Nggak ada tanda-tanda dibajak. Keyakinan palsu yang ternyata rapuh.

Jam 05:21, semuanya berubah. Password diganti. Dan email dari X masih terus masuk. Di titik itu, kaget berubah jadi nggak terima. Bukan cuma karena akun diambil, tapi karena yang diambil itu bukan sekadar akun. X, yang dulunya Twitter, adalah media sosial andalan gua sejak 2010 dimana gua masih duduk dibangu sekolah. Bukan kayak WA, IG, atau platform lain yang interval emosinya cepat dan dangkal dan ga banyak gua abisin disana kecuali liat liat. X itu ruang curhat gua. Ruang jujur. Hampir mirip dengan catatan di sini, bedanya di sana lebih spontan, di web ini lebih panjang dan berlapis.

Sialnya, pengalaman kehilangan ini bukan yang pertama. Gua pernah kehilangan akun email sebelumnya. Satu akun yang nyambung ke segalanya. Blog, Drive, Google Photos, album-album lama, produk Play Store, semua lenyap tanpa sisa. Karena semua akun Google saling terhubung. Sekali jatuh, jatuh semua. Dan rasanya… bukan cuma sedih. Hati nangis, badan meleyot, pikiran nggak karuan. Kayak diputus akses dari hidup sendiri.

Yang paling nyesek itu satu: dibikin nggak bisa mengakses sesuatu yang gua anggap milik gua. Identitas. Jejak. Ingatan. Gua coba segala cara. Lupa password, reset, recovery. Tapi malah dihalangin sama sistem X sendiri, katanya terlalu banyak percobaan. Kirim keluhan ke pusat bantuan, isi formulir panjang, jelasin kronologi, buktiin ini-itu. Responnya dingin: katanya gua masih bisa akses.

Bisa akses?
Nggak.
Gua nggak bisa ngapa-ngapain.

Yang bikin makin absurd, dari hasil penelusuran, email masih milik gua dan ga ada perangkat lain yang masuk ke imel ini, nomor hape masih gua pegang, username masih sama. Semuanya masih “gua”. Tapi aksesnya nggak ada. Dan muncul satu informasi yang bikin kepala panas: login berhasil dilakukan dari device iPhone. Padahal gua bukan pengguna OS itu. sek dulu dong gua ga pake iPhone. Di situ mulai muncul pertanyaan yang nggak enak: bug nya X ada di iPhone dong? celah? atau kombinasi dari semua hal sial yang kebetulan numpuk di satu waktu.

Perjalanan ke kantor pagi itu rasanya berat banget. Bukan capek fisik, tapi lemes mental. Gua cerita ke orang-orang dengan nada datar, hampir tanpa semangat. Karena buat gua, media sosial ini bukan cuma platform. Ini bagian dari jati diri. Arsip pikiran. Fragmen hidup yang nggak pernah diniatkan buat dipamerkan, tapi buat bertahan.

Dan di tengah semua rasa kacau itu, muncul satu celah kecil. Setelah gua komplain lagi, dan iseng,entah berharap atau pasrah. coba fitur forgot password sekali lagi. Kali ini X kayak ngasih kesempatan, atau karna berulang kali gua ke pusat bantuannya dia dan cerita ngalor ngidul ngulon ngetan. Kode verifikasi masuk akhirnya masuk, kali ini udah ga dapet pencegatan karna terlalu banyak percobaan. Gua masuk. Dan secepat mungkin ganti password. Napas panjang. Tangan gemetar. Kepala masih berat.

Nggak ada rasa menang. Yang ada cuma lega bercampur trauma. Kayak orang yang hampir tenggelam tapi ditarik ke permukaan tapi dengan kondisi banyak air yang masuk lewat idung dan bikin tenggorokan sama dada terlanjur perih, bukan buat diselamatkan sepenuhnya, tapi dikasih napas sebentar. Rasa was-was itu nggak langsung hilang. Karena kehilangan itu bukan soal kejadian, tapi soal ingatan bahwa itu bisa terjadi lagi.

Akhir tahun seharusnya jadi penutup. Tapi malam itu, ia justru jadi pengingat. Bahwa apa pun yang kita simpan, rawat, dan anggap aman, bisa diambil begitu saja. Tanpa izin. Tanpa aba-aba. Dan satu-satunya hal yang tersisa hanyalah cara menahan diri agar tidak runtuh sepenuhnya.

Mungkin karena itu, kehilangan selalu terasa personal. Ia menyentuh lapisan terdalam yang jarang diakui. Bahwa bukan cuma takut kehilangan benda atau akun, tapi takut kehilangan diri sendiri yang tertanam di dalamnya. Kata-kata, jejak, curhat, marah, tawa, semua itu bukan sekadar data. Itu fragmen jiwa gua sendiri.

Dan pagi itu, di antara ayam berkokok dan matahari yang belum muncul, gua cuma bisa bilang dalam hati: terima kasih, meski pahit. Terima kasih masih dikasih balik, meski sempat direbut. Dan terima kasih buat pengingat keras bahwa tidak semua yang kita anggap aman benar-benar aman. Yang bisa kita lakukan cuma satu: terus sadar, terus jaga, dan tetap menulis, meski dunia sesekali mencoba menghapus jejak kita.

Musibah yang sudah diprediksi

Sekitar 11 Desember 2025, malam habis isya. Salah satu malam yang sebenernya nggak direncanakan buat jadi apa-apa, cuma rangkaian dari hari-hari yang keempetan. Baru pulang kerja, badan capek, kepala masih kepikiran sisa-sisa urusan. Seperti biasa, langkah kaki otomatis belok ke kantor dulu, tempat staf-staf gua biasanya masih ada, berkumpul tanpa agenda jelas selain memastikan hari itu benar-benar selesai.

Di kantor suasananya setengah hidup, setengah mati. Lampu masih nyala, suara keyboard kadang muncul, kadang tenggelam. Gua berdiri sebentar, ngeliatin alur administrasi yang terus bergerak, data yang masuk, laporan yang disimpan. Ironisnya, hampir semua itu bergantung pada sistem yang gua bangun sendiri, pelan-pelan, sambil jatuh bangun, sambil belajar dari kesalahan yang kadang mahal.

Dan di tengah semua itu, ada satu bunyi kecil yang bikin badan gua langsung siaga. Bunyi “nut… nut…” yang nggak keras, tapi cukup buat bikin dada turun setengah. Bunyi yang cuma akrab buat orang-orang yang hidupnya dekat sama mesin. Bunyi dari NAS Synology gua, mesin kecil yang dulu gua beli sekitar April 2023, di masa keuangan yang nggak bisa dibilang lapang. Eh tunggu dulu, ini berarti staff-staff gua ga ngabarin gua dong kalo ini NAS kenapa-napa.

Waktu itu gua maksa beli NAS buat pembalajaran gua, padahal baru abis ngerakit server lagi belasan juta, ya gimana ya karena ngerasa satu hal: data itu bukan pelengkap, tapi tulang punggung. NAS ini gua taruh sebagai media storage , meskipun ini spek rumahan, tapi gua fungsiin jadi server media pesantren. Tempat semua file penting berkumpul, dari laporan administrasi sampai media harian yang dipakai banyak orang tanpa mereka sadar.

Terakhir gua inget, kapasitasnya udah kepake sekitar 600GB dari total 2TB. Speknya kecil, RAM cuma 512MB, jauh dari kata cukup( makanya akhir akhir ini gua bikin server cdn dulu) Tapi mesin ini jalan terus, diem-diem, nggak pernah protes, nggak pernah minta perhatian. Sampai malam itu, lampu indikator Disk 2 berkedip kuning dengan ritme yang bikin perasaan nggak enak.

Gua buka dashboard, cek satu-satu. Ricek. Dan akhirnya harus nerima kenyataan yang sebenernya udah kebaca dari awal: Disk 2 mati total. Nggak bisa diselamatkan. Rusak fisik. Bukan error software, bukan salah konfigurasi. Murni perangkat keras yang udah selesai tugasnya.

Anehnya, di titik itu gua nggak panik. Ada rasa kaget, iya. Tapi lebih banyak rasa syukur yang naik pelan-pelan. Karena gua tau, NAS ini jalan pakai RAID. Data nggak langsung hilang. Disk 1 masih hidup. Semua file masih ada. Yang dibutuhin cuma satu hal: pengganti yang sama, lalu repair.

Gua langsung japri toko langganan lewat Tokopedia. Merchant yang udah sering gua pake. Mereka nyaranin klaim garansi, bilang masih bisa dibantu karena masa garansi dua tahun. Tapi gua cek lagi, umur NAS ini udah lewat dua tahun lebih. Dan entah kenapa, gua ngerasa kali ini nggak pengen ribet. Gua bilang, “nggak usah klaim, gua beli baru aja.”

Pilihan jatuh ke HDD yang sama persis: WD Red Plus 2TB, tipe NAS HDD. Harga waktu itu 2.319.000. Barang dikirim ke kantor gua di Pasar Minggu karena pengirimannya dari Jakarta Barat. Gua pikir, besok malam baru dieksekusi. Santai. Toh data masih aman.

Tapi ternyata ceritanya belum selesai.
Pas gua mau bongkar NAS, masalah baru muncul. Bautnya susah dibuka. Bukan karena NAS-nya aneh, tapi karena obeng yang ada di kantor nggak ada yang layak. Dan ini murni kesalahan internal gua sendiri.

Lucunya, gua ini orang yang selalu beli obeng buat stok. Kalau dihitung-hitung, gua punya lebih dari 40 obeng. Tapi malam itu, satupun nggak ada. Yang tersisa di kantor SAS cuma obeng jelek, giginya udah aus, dipaksa muter malah bikin baut rusak. Di situ emosi mulai naik, bukan ke alatnya, tapi ke dampaknya dan pasti ke staff gua. Bayangin, enak banget. orang orang suka ngatain enak banget tempat gua enak banget tempat gua. padahal selama ini mereka yang keenakan. mau obeng tinggal ketempat gua, bilang minjem padahal ngambil gapernah balikin. bukan cuma itu, obeng palu dan perkakas-perkakas lain disepelein gitu padahal gua beli pake duit sendiri, bener-bener duit pribadi. Sial kan, gua kayak orang yang harus memenuhi ekspektasi orang sok sibuk padahal gua kalo mau apa-apa selalu ribet sendiri.

Karena server media pesantren nggak bisa aktif. Sistem jajan santri pakai kartu. Kalau server mati, bisa jadi anak-anak ngutang di kantin. Operasional bisa terganggu. Dan gua nggak berani naikin server media, meskipun beda mesin sama server transaksi, karena pengalaman lama: delay, timeout, retry dobel, transaksi kacau, dan akhirnya gua nombok puluhan juta karena nggak bisa trace siapa yang diuntungin.

Akhirnya gua nyuruh staf dengan nada yang nggak bisa ditawar:
“Beli obeng. 20 biji. Ukuran sama. Warna sama. Jangan nanya.”

Besoknya, malam-malam lagi, gua dikabarin: obeng lengkap.
Dan ya, gua semprot. Server mati berjam-jam. Jahat? Bisa jadi. Zolim? Mungkin. Tapi kalau sistem jalan setengah-setengah, risikonya jauh lebih gila. Lebih baik berhenti sebentar daripada rusak lama. Liat, karna gabisa jaga aset gabisa jaga barang, maen kasih kasih aja padahal itu barang gua jadi kemana-mana masalahnya kan.

Begitu alat lengkap, gua bongkar NAS, pasang HDD baru di slot ke-2. Buka Storage Manager, masuk ke Global Settings, pilih Storage Pool, klik Repair. Proses jalan. Pelan. Ada persentase naik satu-satu. Disk 2 mulai disinkron ulang dari Disk 1. Dan di titik itu, gua cuma duduk, ngeliatin layar, sambil senyum kecil. Data kembali identik. Volume hidup. Sistem stabil. Nggak ada yang tahu drama kecil di balik layar itu, tapi gua tahu betul apa artinya.

Malam itu gua pulang dengan perasaan aneh. Capek iya, kesel iya, tapi ada rasa lega yang nggak bisa dijelasin. Mesin kecil di sudut ruangan itu kembali diam, nggak bunyi apa-apa, seolah nggak pernah terjadi apa-apa. Tapi buat gua, malam itu jadi pengingat panjang tentang betapa tipisnya jarak antara “aman” dan “kacau”.