Sudut pandang yang bagus dan mungkin relevan untuk kehidupan yang memang rada agak buat saat ini, keterlibatan sesuatu bahwa fenomena mengundang banyak reaksi. Sebagian menyebutnya sebagai bentuk pelupaan sejarah atau mungkin sebenarnya cara kerjanya adalah menyunting dan membuat garis sejarah baru yang sebetulnya tak akan pernah mungkin eksis di linimasa manapun kali. Sebagian lagi melihatnya sebagai bagian dari transformasi budaya. Apa pun nama yang dilekatkan, reaksi itu selalu punya lapisan emosi yang tak bisa disamakan antara satu orang dengan lainnya. Ada yang marah, ada yang cuek, dan ada yang justru memanfaatkannya untuk keuntungan pribadi.
Fenomena yang memicu banyak kepala berpikir biasanya akan memunculkan dua kelompok, ya emang dari dua kelompok inilah ada yang mau mencari akar masalah, dan sisanya malah ada yang sibuk membungkus masalah itu agar tampak rapi dari luar (tapi tau lah kalo busuk itu busuk aja). Di fenomena inilah peristiwa tarik ulur terjadi, di mana kejujuran sering kali kalah oleh estetika kepentingan. Dan yang paling mengkhawatirkan, ini bisa jadi tanda bahwa pelajaran dari masa lalu sedang diabaikan perlahan-lahan.
Bahwa nyatanya nih ya, dari perspektif manapun sangat terasa menggelisahkan. Bukan cuma karena efeknya besar, tapi karena cara orang menanggapinya sering kali menunjukkan bahwa empati dan logika bisa jadi barang mewah. Ketika suara yang paling keras adalah suara yang diatur untuk menang, yang benar-benar jujur malah terdengar seperti bisikan di tengah bising pasar.
Problem utamanya adalah berkutat pada hal yang berkaitan dengan dirinya yang terlalu manipulatif ketimbang makhluk ciptaan Tuhan yang lain. Seolah dunia ini hanya punya satu pusat yaitu dirinya sendiri. Semua cerita, semua kejadian, semua penderitaan orang lain diukur dari seberapa besar pengaruhnya pada hidupnya. Di titik ini, objektivitas runtuh, dan yang tersisa hanyalah permainan cermin yang memantulkan bayangan ego.
Manusia memang punya kebiasaan unik, menganggap masalah orang lain sebagai tontonan, tapi masalahnya sendiri sebagai tragedi besar. Ada paradoks aneh di sini, di mana kita sering meminta pengertian, tapi jarang benar-benar memberikan pengertian. Kita ingin dipahami tanpa harus memahami, ingin didengar tanpa benar-benar mendengar.
Reaksi atas fenomena besar sering kali juga diwarnai perasaan yang tak seragam. Ada yang bergerak cepat dengan niat membantu, ada yang menunggu momentum demi kepentingan sendiri. Di tengah kerumunan ini, sulit membedakan mana yang benar-benar peduli dan mana yang sekadar tampil peduli. Mungkin ini memang sifat dasar yang tak akan pernah hilang, hanya berganti kemasan setiap zaman.
Iya sih sedih, seperti tahu bahwa ternyata di balik dinding rumah sakit banyak melibatkan banyak orang-orang yang berdoa yang paling tulus. Mereka mungkin tak terlihat, tapi mereka ada. Mereka yang menunggu di kursi plastik selama berjam-jam, yang merapal doa dalam diam, yang tak punya kuasa selain berharap pada sesuatu yang lebih besar dari dirinya. Momen-momen seperti ini mengingatkan kita bahwa di balik semua kebisingan opini, ada kehidupan nyata yang berjalan sunyi tapi penuh makna.
Namun, suara-suara tulus ini sering tenggelam oleh narasi besar yang dibangun di luar sana. Media, politik, dan kepentingan publik lebih tertarik pada drama ketimbang kebenaran. Kisah kecil penuh kesungguhan kalah pamor dari headline yang penuh sensasi. Akibatnya, wajah-wajah lelah di balik dinding rumah sakit itu tak pernah masuk berita.
Ada ironi di situ. Bahwa yang benar-benar menjaga kemanusiaan sering kali bukan yang memegang mikrofon atau duduk di kursi penting, tapi mereka yang namanya tidak pernah disebut. Keberadaan mereka seperti pondasi yang tak terlihat atau setidaknya yang kuat menahan beban, tapi jarang diakui keberadaannya.
Di satu sisi, kita bisa merasa pesimis melihat semua permainan ini. Tapi di sisi lain, justru di titik terendah manusia, ketulusan biasanya muncul. Sayangnya, ketulusan ini sering tidak dipelajari sebagai pelajaran besar, hanya dianggap momen emosional yang sebentar lagi akan dilupakan.
Kalau pola ini terus berulang, kita akan terus punya generasi yang sibuk memoles permukaan tapi tidak pernah menyentuh akar. Mereka akan terus bicara soal perubahan, tapi takut kehilangan kenyamanan. Mereka akan teriak soal empati, tapi mematikan telepon ketika diminta hadir secara nyata.
Mungkin satu-satunya cara bertahan adalah menjaga lingkaran kecil yang masih mau jujur dan masih mau peduli. Tidak untuk menyelamatkan dunia, tapi untuk menyelamatkan bagian kecil dari diri kita yang percaya bahwa kemanusiaan itu belum mati sepenuhnya. Karena selama ada satu saja doa tulus di balik dinding sunyi, masih ada alasan untuk percaya bahwa segalanya belum sepenuhnya hilang.