Melindungi satu-satunya tujuan, meski banyak peran yang absurd sebelumnya. Namun setidaknya meski tak terlalu terlihat, tetap melangkah. Ada fase dalam hidup di mana arah tidak lagi terlihat jelas, tapi berhenti bukan pilihan. Bukan karena yakin, melainkan karena berhenti berarti membiarkan semuanya runtuh tanpa perlawanan sekecil apa pun. Maka langkah-langkah kecil tetap diambil, meski tidak ada yang bertepuk tangan, meski tidak ada yang benar-benar tahu ke mana arahnya.
Dalam perjalanan itu, banyak peran dipakai bukan karena ingin, tapi karena harus. Peran yang terasa janggal, kadang bahkan memalukan, namun tetap dijalani demi satu alasan sederhana: bertahan. Bertahan sering kali tidak tampak heroik. Ia tidak bersuara keras, tidak dramatis, dan jarang diingat. Tapi justru di sanalah inti keberadaan diuji, ketika tidak ada kemewahan untuk memilih, hanya kewajiban untuk terus ada.
Bagus nih kata-katanya, layaknya berdoa di keramaian namun berkhianat dalam keheningan. Banyak hal terdengar suci di ruang publik, tapi rapuh ketika diuji sendirian. Kata-kata indah sering lahir di hadapan orang banyak, namun runtuh saat tidak ada saksi. Di titik itu, kita belajar bahwa integritas bukan soal apa yang diucapkan, melainkan apa yang tetap dijaga ketika tidak ada yang melihat. emang rada beda dengan gua yang lebih luwes dan gampang ketika makin sunyi, ketika tidak ada manipulatif yang berkeliaran dengan mata sok menyimak.
Mengharuskan kebertahanan menjadi inti dari aksi. Ternyata buat mereka mereka itu diam memang menjadi suatu “aktivitas” terberat dalam segala situasi yang menjelma dan sering berkontradiksi dengan keinginan, bahkan ego dan bengis gengsi yang biasanya menjadi satu hal terdepan yang melebihi “tarekat”. Diam bukan kekosongan, melainkan kerja batin yang melelahkan. Menahan diri untuk tidak bereaksi sering jauh lebih sulit daripada meluapkan segalanya.
Ada konflik yang tidak bisa diselesaikan dengan suara keras. Ada pertarungan yang justru dimenangkan dengan tidak turun ke arena. Namun dunia jarang menghargai itu. Dunia lebih suka respons cepat, sikap tegas, dan keputusan instan. Padahal beberapa hal memang menuntut kesabaran yang menyakitkan, kesabaran yang terasa seperti mengikis diri sendiri sedikit demi sedikit.
Ditarik tapi terulur dengan sendirinya, mulai aus bak poros tapi entah berputar karena apa. Ada rasa digerakkan tanpa tahu siapa yang menggerakkan. Seperti mesin tua yang masih hidup, tapi kehilangan tujuan awalnya. Putaran tetap terjadi, bukan karena efisiensi, melainkan karena kebiasaan. Dan kebiasaan, jika dibiarkan terlalu lama, bisa menjelma penjara yang tak disadari.
Lanjut mengendur dan memupus hingga kemudian memudar. Energi yang dulu penuh perlahan hilang bentuknya. Bukan karena satu kegagalan besar, tapi karena kelelahan yang menumpuk. Dan benar, ternyata tak peduli apa pun usahanya, pada akhirnya hancur juga. Kesadaran ini datang bukan sebagai kejutan, tapi sebagai pengakuan pahit atas sesuatu yang sejak lama terasa.
Namun kehancuran tidak selalu berarti akhir. Kadang ia hanya membuka tabir bahwa fondasi yang dibangun memang rapuh sejak awal. Kita sering mempertahankan sesuatu bukan karena nilainya, tapi karena takut mengakui bahwa usaha panjang itu sia-sia. Padahal mengakui runtuhnya sesuatu bisa jadi langkah paling jujur yang pernah diambil.
Di sinilah kesan bohong yang menghancurkan mulai terasa. Bukan kebohongan besar yang dibuat dengan niat jahat, melainkan kebohongan kecil yang diulang terus-menerus sampai dipercaya. Kita berbohong pada diri sendiri tentang kekuatan, tentang tujuan, tentang alasan bertahan. Dan kebohongan itu perlahan merusak dari dalam, tanpa suara.
Ada saatnya seseorang sadar bahwa mempertahankan citra lebih melelahkan daripada menghadapi kebenaran. Bahwa terus terlihat kuat justru membuat rapuh. Tapi melepaskan topeng juga tidak mudah, karena topeng itu sudah terlanjur menyatu dengan wajah. Dilepas terasa telanjang, dipakai terasa menyesakkan.
Dalam kondisi seperti itu, diam kembali menjadi pilihan paling masuk akal. Bukan diam karena takut, tapi diam karena tidak semua harus dijelaskan. Tidak semua harus dipertahankan. Ada hal-hal yang cukup diketahui oleh diri sendiri, tanpa perlu pembenaran eksternal.
Mungkin itulah esensi kebertahanan yang sesungguhnya. Bukan tentang menang atau kalah, tapi tentang menjaga satu-satunya tujuan agar tidak hilang di tengah kebisingan peran dan tuntutan. Meski langkahnya kecil, meski arahnya samar, melangkah tetap lebih jujur daripada berpura-pura selesai.
Dan pada akhirnya, ketika semua lapisan runtuh, yang tersisa hanyalah kesadaran sederhana: bahwa hidup tidak selalu meminta keberhasilan, tapi kehadiran. Hadir dalam diam, hadir dalam runtuh, hadir bahkan ketika segala sesuatu terasa tidak lagi bisa dipercaya. Dari sanalah, mungkin, makna baru perlahan terbentuk.