Membuat kelopak matamu membengkak dan menyayat hati, Tetes air mata sebagai awal dari sebuah drama Membuat semua orang penasaran, manakah penjahat dunia? Demi banyaknya waktu yang telah dilalui, gue mulai meyakini akan suatu rasa untuk pribadi adalah dinamis. Entah, manusia penuh dengan teka-teki, tidak hanya bisa disimpulkan sifat dan hatinya hanya melalui tindakan. Hati itu lunak, dan dapat berubah sewaktu-waktu, seperti halnya penyakit stroke, gak ada yang tau kita akan mengalaminya dan itu akan terjadi secara tiba-tiba tanpa prediksi, kelak mungkin hingga akhirnya nanti gak akan pernah mungkin ada satu orangpun yang dapat menjabarkan hipotesanya tentang kebenaran manusia dan mengungkapkannya.
Listing projek yang udah gue rencanain terlalu banyak untuk dihitung, tapi rasanya meski itu berasal dari pikiran gue pribadi, terkadang itu hanya menjadi kesan PHP yang bikin gue sendiri menjadi gondok. Apa yang sebenarnya gue maksud? terjadi suatu tindak ketidak pastian dalam diri. Lingkungan dan orang sekitar bisa dikata sebagai penghambat abadi yang murni. Sebagian besar pencapaian kegagalan misi gue dalam suatu projek ditentukan dengan jumlah temen yang sering main, sisanya hanya karna cuaca yang membuat gue seret untuk bergerak. Ya. kalo ditinjau secara umum, ketika gue mau menyalahkan keberadaan manusia, tentunya itu yang membuat gue sakit. untuk sampai kapanpun manusia akan selalu begitu, bahkan gue yang selalu menyalahkan kehendak secara sembunyipun yang menjadi masalahnya. kenapa gue bisa terpengaruh sama semua itu? gue juga adalah bagian dari sesuatu yang gue dustakan, gue adalah manusia yang gak pernah mau berusaha yakin dengan apa yang gue liat, terutama untuk sifat kemanusiaan.
Rasa egois pasti ada pada diri gue, bahkan lebih besar melampaui apapun yang terdetik dihati gue. Gue pengen bisa segala sesuatunya dengan sempurna, benci dibatasi meski itu oleh waktu dan menunggu adalah kemuakan yang mega besar. Teramat dan melebihi satuan waktu yang gue gunakan, itulah sesuatu yang enggak gue suka.
Entah berapa lama, kepala ini tidak digunakan untuk menyimpulkan penalaran dan mencari masalah, memburu idealisme yang tinggi yang nampak haus dengan renungan-renungan keabadian. Tak harus suci untuk memulainya, cerita yang dikarang melalui potensi khayal melalui dimensi yang berbeda, mencoba berpikir guna menunjukkan perbedaan yang dimiliki kepada pengguna, merenggut banyak waktu untuk bisa menghasilkan sesuatu. Ya, untuk saat ini, belum ada kepastian dari kuburan jiwa ini, sepertinya ada sesuatu yang masih mengganggu konsentrasi otak kiri, sesuatu yang sulit ditebak dan tak bisa dijangkau melalui bawah sadar ini, sesuatu yang juga menjadi musuh bebuyutan pedoman hidup tak mustinya gue pahami, namun, semenjak waktu berlalu, rasanya gue juga mulai terbiasa dengan kehidupan yang sebenarnya bukan gue banget.

Pada kesempatan kali ini, gue mau share jurnal gowes gue yang udah gue jalankan beberapa hari yang lalu dari Yogyakarta, tempat dimana gue ngekos sampe yang namanya Solo, tepatnya pas di Kraton, Surakarta. Dengan kondisi diatas, bisa dikatakan ini adalah simulasi yang gue lakuin setelah lama gue enggak bareng ama sepeda gue lagi, yaaaah maklum, setelah kebanyakan mengidap asap rokok dari temen-temen kampus yang membuat gue ngerasa kayaknya paru-paru gue udah gak bersih lagi, akhirnya gue bisa memformatnya kembali dengan agenda dua hari sebelumnya gue keliling ringroad biar gak kaget kagetan lagi, berikut jurnal perjalanan gue:
Terbelenggu, diam dengan masa baru dan menjadikan beberapa aturan menjadi bagian dari kehidupan. Rusak! perasaan bisa saja rusak karena aturan logika yang memiliki banyak simpul yang sulit dipecahkan, sesuatu yang tak bisa dikendalikan dari diri akan mendatangkan dua pemahaman emosi yang berlebihan dan orang-orang akan menyebutnya “terlalu”. kata “Terlalu” tak selamanya menjadikan manusia terbelenggu dengan suatu asumsi sebab umumnya kita dapat merasa “Terlalu senang” dan “terlalu sedih”. intinya emosional kita terbuka dan kita melepas peran logika kita menjadi jam terbang atau bawah sadar kita. Kita mungkin menyadarinya. Namun, suatu kesadaran yang kita pahami sebelum kita menyadarinya waktu itu bukan berasal dari serapan sebenarnya, itu hanya media hipnosis yang memaksa kita merangsang hal baru agar mudah ditoleran tanpa harus disaring melalui dasar logika.