Resiko baru menjadi pemeran

Saat semua hal dianggap sebagai penghujung perjalanan, penghubung antara scene kisah dengan kisah lain yang sebenarnya tidak memiliki relevansi, cerita yang sengaja dibuat bersanggup namun sebenarnya hanya memulai dengan karakter baru pada perjalanannya. NPC, non player character. Buta akan skema dan hanya berfokus pada script atau tupoksi yang dijabarkan diawal saja. membabi buta mengikuti arahan tanpa tau maksud dan tujuannya, menjadi tumbal dari keinginan yang namanya purayer.

Tidak suci, namun sayangnya dosa dan pahala sengaja diabaikan demi keberlangusngan. tidak ada unsur imajinatif agama yang diembel-embel dan murni kepentingan. muak dengan segala kata risiko padahal aslinya ia dapat memulai lagi semuanya dari awal. padahal sebenarnya ia ingin dimaklumi atas segala tingkah. mengingat seluk beluk kesalahan yang mungkin saja bisa dianggap sebagai bug namun dengan seenakjidatnya memulai ulang segalanya dengan feel baru namun dengan skema yang sama dan alur yang tidak pernah berbeda. tujuan merupakan titik akhir dari pembebasan cerita. akankah itu diragukan? atau akankah setidaknya itu dipertanyakan kenapa masuk pada segmentasi lojik dan alur yang selalu sama? bodoh ya bodoh saja.

Pernah menjadi bagian dari semesta yang turut menjadi penghantar melalui sambungan doa, makanan dewa agar mereka dapat hidup dan memiliki energi dan kekuatan untuk mengatur. berucap tak memiliki toleransi atas kesalahan namun sering menggambarkan riwayat ego yang fatal untuk dimaklumi. maklumi? apakah paragraf pertama adalah benar? apakah semuanya adalah NPC? apakah bisa dianggap bahwa lu atau tuhan yang sedang bermain dan menjadi karakter unik dalam bumi bulet bak bebatuan kecil di galaksi mati tak bertuhan.

Inikah yang disebut sebagai pemeran? maksudnya pemeran pengganti dalam siklus perubahan aktifitas yang ditulis secara acak namun harus ada untuk memiliki kesan plegmatis, hanya sebagai bumbu bahwa ceritanya dunia tak akan pernah baik-baik saja. Mahagembel dengan segala aturan kesesatannya

Kebaikan? sah dan jarang dipakai

Kebaikan. Kata yang sering terdengar, sering diajarkan, tapi entah kenapa jarang benar-benar dipakai. Seperti baju bagus di lemari, yang hanya diambil saat momen-momen tertentu, lalu disimpan kembali sampai berdebu.

Gue nggak bilang kebaikan itu nggak ada. Kebaikan selalu ada. Tapi, kebaikan sering kali seperti barang mahal,hanya dikeluarkan ketika kita yakin akan ada balasan yang sepadan. Kita terlalu sering menimbang-nimbang: apakah kebaikan ini layak dilakukan? Apakah gue akan rugi kalau melakukannya? Atau bahkan, apakah kebaikan gue bakal dianggap tulus atau justru dianggap modus?

Gue sadar, hidup ini nggak sesederhana dongeng atau cerita moral di buku sekolah. Di dunia nyata, ada banyak alasan kenapa kebaikan jadi sesuatu yang “langka.” Kadang, itu karena kita takut dimanfaatkan. Takut bahwa apa yang kita beri nggak akan dihargai. Takut bahwa kebaikan itu sendiri justru jadi kelemahan.

Tapi, apa itu benar? Apa benar kebaikan harus dihitung-hitung sebelum dilakukan? Apa benar kita harus memastikan bahwa kebaikan itu “menguntungkan” dulu sebelum memutuskan untuk bertindak?

Dulu, gue kira gue akan menjadi mati jika nggak baik. Makanya semaksa itu, sekekeh itu. Dalam hati, gue menganggap diri gue orang yang paling sabar dan ikhlas. Tapi, untuk orang lain, artinya nggak jauh beda dari orang goblok yang selalu lembek untuk dimanfaatkan.

Berulang kali dianggap tak apa-apa, gue bertahan dalam kesendirian dan keputusasaan. Mencoba menolong, membantu, dan mengobati banyak luka akibat ulah bukan gue sendiri. Nepa bagai rasa yang dipindahkan dan sirna begitu aja.

diantara Ilusi kata

Sumpah dan janji. Dua kata yang sering kali terdengar begitu sakral. Dua kata yang, entah kenapa, punya kekuatan untuk membuat seseorang percaya, bahkan ketika kebenaran di baliknya belum tentu jelas.

Gue pernah termakan oleh sumpah dan janji. Terlalu mempercayai kata-kata yang terdengar indah, seolah-olah itu adalah satu-satunya hal yang bisa dijadikan pegangan. Tapi sekarang, gue sadar bahwa sumpah dan janji itu nggak pernah benar-benar pasti. Kadang, itu hanya jadi alat untuk mengikat, bukan sesuatu yang lahir dari kejujuran.

Ya, gue selalu membaur pada kata asing yang sebenarnya mengaburkan kepercayaan. Bahkan dewa-dewapun tidak bisa dipercaya. Diri sendiri? Entahlah. Kadang gue merasa lebih kukuh mempercayai sesuatu yang abstrak di dalam diri sendiri. Bukan karena gue yakin, tapi lebih ke penekanan bahwa gue nggak ingin kecewa pada diri gue sendiri.

Pada dasarnya, sumpah dan janji sering kali cuma tuntutan hati. Sebuah keinginan untuk menyenangkan diri sendiri atau orang lain, tanpa memikirkan apakah itu punya validasi yang objektif. Kita berjanji karena ingin terlihat baik, karena ingin diterima, atau karena ingin meyakinkan diri kita sendiri bahwa kita bisa memegang kata-kata itu. Tapi, pada kenyataannya, apa benar semua sumpah dan janji itu bisa dipegang?

Gue masih tertatih bertahan sampai sekarang. Bukan karena gue nggak mau percaya lagi, tapi karena gue mulai memahami bahwa apa yang dulu gue anggap pasti, sebenarnya nggak lebih dari ilusi. Sumpah dan janji itu indah, tapi indahnya sering kali semu. Ada sesuatu yang kosong di baliknya, sesuatu yang nggak pernah benar-benar menyentuh realita.

Dan itu yang bikin gue mulai mempertanyakan semuanya. Apa gue salah karena terlalu mempercayai? Apa gue salah karena memberikan semua kepercayaan gue pada sesuatu yang nggak pernah punya validasi objektif? Atau mungkin, ini cuma pelajaran lain yang harus gue terima, bahwa nggak semua hal di dunia ini bisa dilihat hitam putihnya.

Sekarang, gue cuma bisa belajar buat nggak terlalu terpaku pada sumpah dan janji. Bukan berarti gue nggak percaya sama sekali, tapi gue mulai tahu bahwa ada hal-hal yang lebih penting dari sekadar kata-kata. Perbuatan, misalnya. Atau kejujuran yang nggak perlu dihias dengan janji-janji besar. Karena pada akhirnya, janji itu cuma kata. Yang bikin artinya nyata adalah bagaimana itu ditepati.

Gue masih di sini, tertatih, tapi gue jalan terus. Karena meskipun sumpah dan janji pernah bikin gue jatuh, gue tahu gue bisa bangkit lagi. Dan kali ini, gue nggak akan lagi menyerahkan kepercayaan gue cuma pada kata-kata.

Sosok guru yang tak pernah diminta

“من لم يكن له شيخ فشيخه الشيطان”
Siapa yang tak punya guru, maka setanlah gurunya.

Gue sering denger kalimat itu, dan jujur, bikin gue mikir. Apa artinya semua ini? Apa benar selama ini gue berjalan sendirian, tanpa bimbingan dari siapa pun kecuali setan? Kalau iya, apakah itu buruk? Atau justru, gue harus berterima kasih?

Ilmu yang gue dapet selama ini, sebagian besar datang dari otodidak. Dari mencoba, gagal, jatuh, dan bangun sendiri. Gue nggak pernah diajarin secara langsung cara berjalan, cara bertahan, atau bahkan cara berpikir. Semua datang dari pengamatan, dari kesalahan, dari rasa sakit yang gue tanggung sendiri. Dan, entah kenapa, gue berhasil sampai sejauh ini.

Apa ini artinya gue harus banyak berterima kasih pada pengetahuan yang muncul dari ketiadaan guru? Atau lebih jauh lagi, pada setan, yang katanya jadi “guru” buat mereka yang nggak punya bimbingan?

Gue nggak tahu pasti. Tapi kalau dipikir-pikir, semua yang gue pelajari selama ini memang nggak datang dari tempat suci. Nggak ada guru yang menunjuk arah, nggak ada peta yang bilang “ini jalannya.” Yang ada, hanya jalanan gelap penuh jebakan, tempat gue belajar sendiri cara memprediksi langkah selanjutnya.

Cara gue bertahan juga begitu. Nggak ada yang ngajarin gue gimana caranya tetap berdiri ketika semua terasa runtuh. Nggak ada yang bilang, “ini yang harus lo lakuin supaya lo nggak jatuh.” Gue belajar dari rasa sakit. Dari luka yang gue sembunyikan sendiri. Dari diam dalam hembusan angin yang orang lain sebut takdir, tapi gue tahu itu hanya kekacauan yang gue harus atur ulang.

Dan di situ, gue mulai bertanya. Apa salah kalau gue belajar dari tempat yang nggak sempurna? Apa salah kalau ilmu yang gue dapet nggak datang dari guru yang sah, tapi dari pengalaman yang liar dan nggak terarah?

Mungkin benar, dalam proses ini, setan ikut bermain. Mungkin dia yang berbisik ketika gue mulai ragu. Mungkin dia yang menuntun gue saat gue nggak tahu harus ke mana. Tapi di sisi lain, bukankah itu bagian dari perjalanan? Bukankah setan hanya berfungsi ketika manusia diam? Dan gue nggak pernah diam. Gue terus jalan, meskipun arah gue nggak selalu jelas.

Jadi, apa gue harus berterima kasih? Mungkin iya. Bukan cuma pada setan, tapi juga pada diri gue sendiri, yang terus berjalan meskipun nggak tahu ke mana. Yang terus bertahan meskipun nggak ada yang bilang “lo bisa.”

Dan kalau ini artinya gue salah, gue nggak peduli. Karena yang gue tahu, jalan ini milik gue. Dan kalau gue bisa sampai di sini, itu bukan cuma karena setan atau siapa pun. Itu karena gue, dan karena gue nggak pernah berhenti belajar dari setiap langkah, setiap luka, setiap kesalahan.

Menelan penuh aksalarasa kegelapan

“Daripada mengutuk kegelapan, lebih baik menyalakan secercah lilin.” Sebuah kalimat yang sering kali terdengar bijak. Tapi, apa gunanya cahaya yang nanggung? Apa gunanya lilin kecil di tengah lautan kegelapan yang tidak pernah pergi? Kalau semua sudah jadi gelap, kenapa nggak sekalian menelan semua kegelapan itu? Kegelapan abadi, mungkin lebih jujur daripada secercah cahaya yang cuma bikin harapan palsu.

Gue nggak bisa baik. Atau mungkin, gue nggak pernah benar-benar tahu apa artinya menjadi baik. Yang gue tahu, gue adalah satu bongkahan kecil yang nggak akan bias terhadap apa-apa. Nggak bias terhadap apa yang terjadi di sekitar gue, nggak bias terhadap dunia yang terus bergerak. Gue ada, tapi keberadaan gue nggak pernah cukup buat mengubah apa pun.

Kalau gitu, kenapa gue nggak diciptakan jadi iblis sekalian? Kalau hidup ini cuma tentang jadi baik atau buruk, kenapa gue nggak langsung dilempar ke sisi yang jelas? Jadi iblis, setidaknya nggak ada kebingungan. Setidaknya nggak ada tuntutan untuk jadi sesuatu yang gue nggak bisa.

Iblis nggak harus berpura-pura jadi baik. Iblis nggak harus dengerin kata orang, nggak harus jadi batu loncatan buat orang lain, nggak harus pura-pura peduli sama dunia yang nggak pernah peduli balik. Gue sering mikir, mungkin lebih baik diciptakan untuk hal-hal buruk daripada terombang-ambing di tengah abu-abu yang nggak jelas ini.

Jujur aja, kadang gue lelah sama gagasan bahwa gue harus terus berusaha jadi baik, harus terus berusaha bikin perubahan, harus terus mencoba menyalakan lilin kecil di tengah gelap. Karena apa gunanya? Lilin itu nggak pernah cukup buat menerangi semuanya. Dan gue nggak tahu apakah ada yang benar-benar peduli.

Kalau gue cuma batu kecil di tengah sungai deras, gue cuma menghambat. Gue nggak membantu apa-apa, nggak mengubah arus, cuma jadi penghalang kecil yang mungkin bikin orang tersandung. Kalau gitu, kenapa gue nggak langsung disebut sebagai penghambat aja? Kenapa nggak langsung ditunjuk sebagai sesuatu yang buruk, daripada terus dipaksa untuk jadi sesuatu yang gue nggak tahu cara jadi?

Mungkin dunia ini terlalu rumit buat gue pahami. Atau mungkin, dunia ini terlalu sederhana, tapi gue aja yang nggak bisa nerima. Gue nggak tahu jawabannya. Tapi satu hal yang gue tahu, kadang kegelapan itu lebih jujur. Kegelapan nggak berpura-pura. Kegelapan cuma ada, apa adanya, tanpa mencoba jadi sesuatu yang lain.