Keheningan, gausah iklas!

Ah iya, gua yang antisipasi, bikin catetan paling rapi. Berbicara paling lantang diantara banyak kesunyian yang gua lakuin. Tapi gua juga yang kena imbas. Sialnya, gua yang paling awal disebut dalam daftar singkat sebagai contoh. Dewanya ga asik ????

Tidak seperti gua yang memang dibuat oleh pencipta dengan casing yang rapuh. Gua larut pada kehampaan, menjerumuskan dan membuat timbal balik antara berpikir dan merenungi dengan mengutarakan apa yang terbesit dihati menjadi buyar. Bak tak mau merasa layaknya si munafik yang selalu berpura-pura namun memang sebenernya gapunya kendali atas keteguhan. Mengakui ego masuk namun seakan-akan bangga dan selalu minta dimaklumi.

Tak ubahnya dengan segelintir rasa, harapan dan pemberian pernah tertangkap dan menyerap begitu saja. Berpikir dan merasakan dengan amat cermat karna mencintai semua pola dan bentuk serta gerakan dengan segala pandangan keindahan namun sebenarnya biasa. Karena memang balutan rasa yang lembut memang menyelimuti dan mampu mengubah segalanya menjadi ‘sempat’ indah. Ya seindah itu hingga tak ada rasanya bela-belain dan kata berjuang. Capek? Tidak merasakan meskipun sering badan mengirimi sinyal panas pada tubuh namun bak orang bodoh yang tak pernah belajar, waktu tetap dijalani dengan suka. Namun lara mengubah segalanya, menciptakan kegaduhan bak tontonan yang amat disukainya dulu, ladang gandum yang indah dan elok dipandang seketika berubah karena kejatuhan cairan coklat yang berakhir menjadi cococrunch.

Dari segala dasawarsa yang gua hidup didalamnya, gua berjuang dalam kesunyian tanpa pandang mata, pasti tulus tapi kadang memang muak. tapi cari aja mana yang ga munafik didunia ini! Kadang rasanya seperti menari di atas gelombang yang tak pernah reda, pasang surut juga berlaku untuk frekuensi hati yang tak pernah henti memberi guncangan atas peristiwa dan fenomena yang dilihat dan dirasa. berusaha sekuat tenaga tanpa tahu apakah akan sampai ke tepi. Banyak saat dimana gua bertanya-tanya, “Apakah ini semua tentang ketulusan?” Namun, segera gua sadari, ini bukan tentang hasil akhir, pasti bukan tentang hasil akhir dan kata berakhir. memang gua orang yang suka banyak proses yang mungkin gua gapunya cerita yang memiliki ending apik dan bagus yang bisa diceritakan oleh siapapun. ini tentang bagaimana gua yang gapernah mau berdamai dengan keadaan gua saat ini tapi yang akan menemukan makna dalam tiap detik yang berlalu.

Gua sering merasa seperti berada dalam permainan yang aturannya tak pernah jelas. Seakan-akan gua diminta untuk memainkan sebuah peran tanpa naskah. Gua berusaha untuk tidak terjebak dalam perbandingan yang sia-sia, karena gua tahu setiap cerita itu unik dan setiap perjuangan itu berharga. sekalipun ada hati yang harus dihancurkan. ada iba dan rasa terabaikan akan fenomena. tak terlihat meskipun sudah sekuat tenaga beranjak dari lumpur hidup yang sialnya bikin hidung gue kesumbet dan gabisa napas. tau kan rasanya diikat kedua kaki dan ditinggalkan di semua pelataran yang kosong. hanya lantai yang ditemukan. adu dengan rasa gatal yang sama sekali gabisa digaruk karna tangan diikat. gausah jauh-jauh ngomong gembel dengan kata-kata bias yang tak terjangkau. kalo tau rasanya gimana, resapi aja. pahamin aja. itu yang gue temuin dikarakter kuroba yang bilang meskipun seseorang menitipkan berlian ditangan, belum tentu jari harus mengepalnya seakan memilikinya. titipan woy

Dalam kesendirian gua, gua sering kali merenung, mencoba mencari tahu, apa yang sebenarnya gua cari dari hidup ini. Kadang gua merasa, gua kehilangan arah dan memang sebenarnya inilah arah yang dihilangkan dari tuhan untuk gua mungkin. Tapi dalam kesendirian itu juga, gua menemukan kekuatan, satan yang lembut. Kekuatan untuk bangkit, untuk tidak menyerah, untuk terus berjuang meski dunia seakan tak peduli.

Awal tak mau mulus

Ada kalanya dimana satu detik bisa jadi lebih berarti daripada seribu tahun (mampus, kayak yang katanya dineraka). Ketika keterikatan membuat momen itu spesial, seperti seolah-olah ada yang mengikat di dalamnya. Tapi, dari semua itu, kadang waktu jadi semu dan hambar, lo tahu kan? Ketika simpul-simpul yang seharusnya memperkuat, malah membuat segalanya jadi gak jelas,terutama dengan tema yang kayak ‘gak ada lagi’ itu.

Sudah jelas, kan? Segalanya pasti akan mengalir. Bisikan demi bisikan akan terdengar, menyusup ke setiap celah dan relung kehidupan, menunjukkan bahwa perjalanan hidup manusia itu gak harus selalu absurd. Absurd dengan semua khayalan dan imajinasi yang sudah kedaluwarsa, yang sebenarnya gak bisa dihitung atau dinilai sekalipun tulisan ini jadi panjang berbait-bait.

Seringkali saja mengais dan mengikis dengan apa yang ada, menciptakan pola yang kadang-kadang terasa biadab. Lo tahu gak, bersembunyi di antara ribuan muka dan alasan yang saling menutupi dengan pola yang acak itu bisa banget bikin tarikan benang yang kita ambil membawa kesimpulan yang berbeda. Itu sendiri yang nantinya akan menjadi daya tarik tersendiri.

Awal baru? Apa itu? Hari, bulan, tahun yang spesial? Ya, bisa jadi spesial jika kegiatan kita dikaitkan dengan semua itu. Beberapa tahun yang lalu, gua juga sempet ngerasain itu, di tengah susah payah dan capek memburu waktu, sampai akhirnya semua jadi nyata. Tapi kadang, itu gak berlaku dan gak ada artinya sama sekali jika dibahas sekarang.

Kalo bicara tentang makna, katanya sih semua kehidupan punya. Tapi, apakah semua makna itu bisa dijadikan acuan atau referensi yang solid? Bahkan malaikat yang pakai baju zirah sekalipun, gua jamin gak akan bisa mengais semuanya. Simpul dan pola itu melapisi setiap gerakan, membuatnya sentimental, akan tapi seringkali baur dan bias.

Jalani aja hidup lo sendiri, hidup kalian sendiri. Gak usah sok ngerti atau pura-pura paham apa yang sebenarnya terjadi. Tanpa harus mengeja atau menggibah dengan seenaknya, padahal lo cuma nebak dan gak pernah tahu apa yang sebenarnya terjadi. Apa setan yang ada, atau insiden apa yang tercatat dilingkungan ini, urusan gua bukan sarapan lu.

Kadang, gua merasa seperti diadu dalam arena tanpa penonton, di mana setiap langkah yang gua ambil rasanya penuh risiko. Gua dan lo, kita berdua diuji dalam cara yang berbeda, mencoba melawan rasa takut yang kaga bakal bisa sama, tanpa tahu pasti apa yang menunggu di ujung sana.

Masa lalu itu bisa jadi beban atau pelajaran, tergantung gimana cara lo melihatnya. Untuk gua, semua yang pernah terjadi,baik yang bikin sakit hati atau bahagia,jadi bagian dari cerita yang terus gua rangkai hari demi hari yang tentunya yang gua miliki adalah kutukan yang gapernah mungkin mau gua tarik sampe gua mati. Setiap kejadian itu, bagaimanapun kecilnya, menyimpan serpihan-serpihan makna yang kadang baru gua pahami jauh kemudian, tapi gua ga akan mau bilang nyesel.

Lelah dengan semua drama yang gak pernah ada habisnya, gua kadang cuma ingin menghilang selamanya. Menyepi dan melupakan semua kegaduhan, membiarkan pikiran gua istirahat tanpa terganggu oleh kebisingan dunia. Tapi, gua tahu, itu hanya pelarian, dan pada akhirnya gua harus kembali menghadapi kenyataan karna gua memang gabisa melepaskan diri dari catatan lauhul mahfudz nya ono.

Semua itu ibarat kanvas; butuh waktu dan kesabaran untuk menciptakan karya yang indah. kita telah menulis banyak sejarah dan melukis banyak kenangan, melalui tebal tipisnya hidup. Kadang, warna-warna itu tercampur amburadul dan makin abstrak, tapi ada kalanya juga tumpah dan berantakan. Namun, itulah yang membuatnya unik dan tak tergantikan.

Gua sering bertanya-tanya, apa yang membuat hidup ini berharga? Jawabannya selalu berubah, tergantung pada hari atau mood gua. Namun, satu hal yang pasti, momen-momen kecil bersama orang-orang yang gua sayangi selalu membuat segalanya terasa lebih berarti.

Di akhir hari, semua yang dilakukan, semua yang di hadapi, itu hanya bagian dari perjalanan yang lebih besar. Setiap kesulitan, setiap kegembiraan, membawa orang lain utnuk dekat pada pengertian diri dan dunia sekitar karena pengorbanan dan kegagalan yang ditertawakan jadi bahan untuk pertimbangan manusia lain. Jadi, teruslah berjalan, karena hidup ini gak pernah berhenti mengajari tentang arti sebenarnya dari eksistensi meski sebenernya terlalu banyak nyawa yang musti dikorbankan, jadi siap-siap aja.

Pemicu memakan takdir

Di antara sekian banyak rasa yang terus berkutat dalam insiden, usaha, dan ingatan, ada satu rasa yang terasa asing bagi gua. Bukan karakteristik gua untuk tenggelam dalam perasaan; gua adalah orang yang mengedepankan logika. Namun, dalam perjalanan waktu, semua kata, ucapan, janji, dan tingkah laku yang biasanya substansial dan bisa diandalkan, menjadi rapuh saat ego dan perasaan terlibat.

Kegelisahan yang tak terduga muncul, memecah ketenangan, mengubah segalanya. Membuat gua merenungi, bagaimana bisa sesuatu yang seolah tidak pernah terjadi, menghancurkan keutuhan? Goresan dan sayatan mulai terasa, meskipun sekuat tenaga gua mencoba menutupi, tetapi semuanya terkoak juga.

Kenapa harus gua, yang selalu merencanakan dengan rapi, yang harus hancur karena kepentingan semu orang lain yang suka coba-coba? Ini masalahnya, luka menjadi nanah dan membusuk hingga tak seorang pun yang ingin bahkan siap melakukan tindakan untuk mengamputasinya. gua? satu dari kepingan kecil yang memiliki tujuan obsesi cita-cita harapan dari apa yang gua lakuin, dengan banyaknya memori riwayat kenangan masa-masa yang sebenarnya normal dan bukan dari background hancur karena kerusakan dan keretakan awal. bukan, gua ga semestinya dapetin terjangan didepan karna gua sudah rapi dari awal

Pernah ada, satu rasa yang dimanfaatkan dan atas keterlibatannya menjadi jelmaan lembuh atas pengorbanan tanpa hasil. Standar berubah karena tau saat terpeleset ada injakan kuat yang masih akan tetap terus bahkan selalu dapat menjadi topangan. Ya, jauh dari segala masalah yang ada. Gua selalu bisa menemukan titik terang atas semua masalah gua, gua selalu bisa menanggung semua apa yang gua lakukan, gua perbuat bahkan yang gua lihat. Tapi ini? Setelah melewati banyak fase, semua tetap suram dan bahkan misteri menjadi tak terpecahkan, yang seharusnya bisa terlewati dengan bias dan sukarela.

Dan di sini gua berdiri, di tengah kehancuran yang menyeluruh, merenungi apakah memang ada jalur keluar dari labirin yang sebenernya itulah buatan gua. Perjalanan yang seharusnya penuh dengan penemuan dan pemulihan, kini hanya tersisa puing dan kenangan yang tak bisa dipahami. riwayat dari perbuatan menjadi daya tarik dan ketukan tersendiri yang sebenernya lebih tepat pada pengendalian atas apa yang gua lakuin.

Selalu ada sesuatu yang mengintai dalam kegelapan, suara-suara yang berbisik tanpa wujud, meminta untuk melangkah lebih jauh ke dalam namun gatau pasti apakah sebenarnya itu adalah lubang tanpa dasar. Namun setiap langkah hanya semakin mengikat gua pada pusaran yang sama, tanpa ada harapan untuk pecah atau berakhir. Karena dalam setiap usaha melupakan, ada lebih banyak yang harus diingat.

Dalam diam dan dendam, pelarian dari realitas yang buta

Ketika jawaban nggak lagi mampu berbicara dengan logika atau niat buat berdebat, seringnya dua kata yang gua dan lu lontarkan adalah “Tuhan” dan “waktu”. Ini jadi pelarian pas gua dan lu kejebak dalam ketidakmampuan buat menjelaskan lebih jauh, atau pas gua dan lu nggak pengen banyak bacot.

Kebutaan bukan cuma kondisi fisik, tapi juga metafora buat keadaan batin yang paham tapi tetap nggak bisa ‘melihat’. Gua mungkin ngerti dan tahu, tapi keadaan ini sering bikin gua sulit untuk bener-bener melihat apa yang seharusnya dilihat.

Mengungkapkan pikiran dan perasaan gua bisa kerasa nggak pernah bener. Gua sering ngerasa bahwa milih diam itu lebih baik daripada ngomong. Tapi, kebisuan ini sering bawa gua ke dalam sesat pikir yang lebih dalam. Mengutarakan, meski penuh risiko, adalah langkah berani yang perlu gua ambil.

Ungkapan yang terdengar ambigu sering meretakkan garis tujuan yang seharusnya lurus jadi percabangan yang kusut dan nggak jelas. Ini dilema komunikasi gua, di mana kata-kata nggak selalu bisa nangkep esensi dari apa yang bener-bener mau gua sampaikan.

Dalam linimasa kehidupan yang nggak kenal akhir, segala sesuatu pada akhirnya akan habis, termasuk kisah yang sekarang gua rangkai. Gua bergerak sejalan dengan prediksi-prediksi yang ada, tapi sering kali terganggu oleh figur-figur aneh yang datang dan pergi tanpa rencana yang jelas.

Rencana? Apa lu pikir gua adalah manusia yang nggak punya pegangan kendali atas rencana? Gua sang perencana! Gua berkutat pada proses yang selalu nggak mereferensikan pada hasil yang dimiliki orang lain. Tenang aja, gua nggak fanatik sama hasil akhir, gua selalu menikmati proses meski itu keiris. Ya, kata bagus yang menyeruak dalam batin yang sesekali ingin gua ucapkan dengan gamblang. Iya, gua mengalami gelisah sepanjang masa.

Bukan berarti gua terlalu suka untuk dibodohi atau diinjak. Meskipun gua diam, gua pendendam. Jadi, hati-hati kalo lu pikir gua ini lemah.

Apapun kata mereka, katakan saja gua orang bodoh. Namun jauh dalam relung hati gua, gua anggap gua orang yang paling tulus. Pandangan orang lain tentang diri gua nggak akan mengubah pandangan gua tentang siapa gua sebenarnya.

Melalui semua kisah ini, gua belajar tentang diri gua sendiri. Tentang gimana gua melihat dunia dan gimana dunia melihat gua. Ini adalah perjalanan yang terus berlanjut, sebuah perjalanan buat memahami makna yang lebih dalam dari segala yang gua alami.

Menjelajahi ruang ‘presepsi’ yang presisi nan imajiner

Dalam dunia yang serba cepat dan penuh tuntutan ini, kita sering kali terdorong untuk menciptakan ruang presisi imajiner,suatu dunia di mana pemikiran lurus dan khayalan berbaur, menjelajahi cakrawala yang katanya buatan Tuhan. Fenomena ini tidak hanya menantang kita untuk berpikir di luar batas kebiasaan, tetapi juga menguji batasan toleransi kita terhadap yang baru dan yang tidak dikenal.

Ruang imajiner ini menjadi medan bagi kita untuk menguji ide-ide baru, mempertanyakan norma yang ada, dan, terkadang, menantang kenyamanan persepsi kita. Namun, ada garis tipis antara inovasi dan ilusi, antara pemikiran kreatif dan pelarian dari realitas. Ketika kita melampaui batas ini, seringkali yang muncul bukan kekaguman tapi kurangnya rasa hormat, baik dari diri sendiri maupun dari orang lain.

Hal ini diperparah dengan kondisi di mana kita, sebagai masyarakat atau individu, sering merasa pincang karena kebodohan. Di beberapa menit terakhir, kita mungkin merasa bisa bertahan dari badai kebingungan ini, namun sebenarnya kita hanya tersesat lebih jauh dalam labirin pemikiran kita. Kita serba salah, tapi ada perasaan bangga yang tersembunyi, bangga akan ketangguhan kita dalam menghadapi rintangan intelektual, meskipun pincang.

Pertanyaannya, sampai kapan kita dapat terus menjelajah tanpa arah yang jelas? Apakah kita mencari solusi atau sekadar simpati dari pencapaian yang tampak heroik tapi hampa? Ini adalah refleksi yang harus kita hadapi saat mengeksplorasi dunia imajiner ini.

Di balik semua ini, ada keindahan yang tak terbantahkan dalam proses kreatif, dalam membentuk dan membongkar kembali konsepsi yang kita miliki tentang dunia. Membangun ruang imajiner ini memungkinkan kita untuk bermain dengan kemungkinan,untuk melihat apa yang bisa terjadi jika kita mendorong batasan pikiran kita sedikit lebih jauh.

Namun, kita juga harus sadar bahwa setiap ciptaan imajiner kita membawa konsekuensi. Tidak setiap pemikiran yang ‘berani’ berakhir dengan hasil yang konstruktif. Kadang, apa yang kita banggakan sebagai pencapaian intelektual hanyalah bentuk lain dari eskapisme atau penolakan realitas yang keras dan tak terbantahkan.

Kita perlu bertanya pada diri sendiri: Apakah kita benar-benar menciptakan sesuatu yang berharga, atau hanya membangun istana pasir di tepi realitas? Kapan kita harus berhenti dan melihat kembali, mungkin bahkan mengambil langkah mundur, untuk memastikan bahwa kita tidak hanya berjalan di tempat?

Melalui perenungan ini, berharap dapat belajar untuk membedakan antara merenovasi pemikiran dan merusak fondasi realitas. harus berhati-hati untuk tidak terjebak dalam keangkuhan intelektual sendiri, dan tetap terbuka terhadap kemungkinan bahwa ada hal-hal yang berada di luar pemahaman yang dulunya, saat ini dan dimasadepan yang selalu saja terbatas.