Jurnal Bonceng Jogja-Semarang

Tak berjudulTidak seperti kegiatan gue biasanya, kali ini gue memiliki jurnal baru dalam hidup gue, yaitu diboncengin dalam jarak tempuh yang lumayan jauh, Jogja-Semarang. Perjalanan gue dkk dimulai karena ketidak rencanaan dan terjadi begitu saja, dan hasilnya gue masih dihantui rasa bersalah atas keadaan yang menimpa kehidupan psikologis teman gue. Langsung aja, dua malam sebelum ini, tepatnya pada hari Sabtu, tanggal 26 April 2014. Ketika temen-temen gue pada nyetem di kos gue. sebenarnya kita memiliki aktifitas kita masing-masing, ada yang ngegame, facebookan, dan gue sendiri aja pikiran gue melalang buawana melewati banyaknya naluri yang tersirat dalam benak, berkhayal tentang game buatan gue yang kerjaannya belepotan dan enggak kelar -_-. Nah, waktu itu kita niatnya pengen keangkringna, maklum beberapa dari kita termasuk gue sudah memiliki akun tipis pada pendataan lembar berharga di dompet, dan waktu ngajak temen gue yang kebetulan belon gabung, dia bilang mau ke magelang, ke kakeknya. Nah, itulah sejarah kami dimulai. Pada waktu itu, kita sentil sentilan lidah bilang begini, “kenapa enggak maen ketempatnya dovi aja?”. Dovi adalah nama temen kampus gue asal jakarta tapi punya kerabat di daerah magelang.Usul ketemu usul temen gue sepakat dan akhirnya kita memutuskan untuk berangkat duluan ke angkringan. Nah, waktu si dovi ini dateng, trus kita bilang kita ngikut dov dan dia mengiyakan tapi dengan lanjutan kalimat “tapi besok gue mau ke semarang sama kakek gue”. Waduh, terdetik rasa kurang enak buat gue karena yang gue tau ini adalah acara keluarganya dia. kenapa kita pada nimbrung-nimbrung, trus karena kesalahan komunikasi dan kesepakatan yang salah diartikan oleh si dovi itu, akhirnya kakeknya setuju kalo kita ngikut. kita enggak menyesal karena kapanpun sebenarnya yang penting kita bisa jalan-jalan bareng, yaaa itung itung mengekstrak semua penat.

Waktu berlalu, perjalanan pun dimulai, dan bukan dari suatu hal yang bisa dicuri.

  • Sekitar jam 19.30an, setelah kami mempersiapkan diri membawa barang-barang keperluan dari kos masing-masing ke basement sementara kami, Angkringan tempat kita nyetem. Akhirnya kami berlima [Gue, Harland, Reza, Ira dan Dovi] berangkat menuju Magelang lewat jalur dalam. [Lihat Kordinat A ke B]
  • + Jam 22.00 kami sampai di magelang, tempat kakeknya temen gue, si Dovi dan kami beristirahat menunggu pagi disana .
  • + Jam 07.00 kami berangkat dari magelang lewat jalan utama ke arah Semarang yang dengan hantaman jalan, ban bocor dan ngisi bensin sehingga tiba sampai ke tujuan, tepatnya Asrama Polisi sekitar Jam 10.00 [Lihat Kordinat B ke C].
  • Jam 17.00 kami berangkat lagi dari semarang ke magelang, dibarengi dengan mampir ke masjid dan tersesat ditengah jalan hingga akhirnya kami sampai di magelang lagi jam 20.00, dan kami berstirahat sejenak [Lihat Kordinat C ke B]
  • Jam 10.30an kami berangkat dari magelang menuju tempat masing-masing, dan kali ini karena ada beberapa masalah jadinya kita masih nyetem lagi di tengah jalan hingga pada akhirnya kami tiba dengan selamat di kos masing-masing kira-kira jam 00.30an

Maaf sebelumnya ini telat update, dulu kirain udah keposting tapi ternyata berminggu minggu ini mask ke draft :)

Jurnal Gowes Jogja-Solo

jurnalPada kesempatan kali ini, gue mau share jurnal gowes gue yang udah gue jalankan beberapa hari yang lalu dari Yogyakarta, tempat dimana gue ngekos sampe yang namanya Solo, tepatnya pas di Kraton, Surakarta. Dengan kondisi diatas, bisa dikatakan ini adalah simulasi yang gue lakuin setelah lama gue enggak bareng ama sepeda gue lagi, yaaaah maklum, setelah kebanyakan mengidap asap rokok dari temen-temen kampus yang membuat gue ngerasa kayaknya paru-paru gue udah gak bersih lagi, akhirnya gue bisa memformatnya kembali dengan agenda dua hari sebelumnya gue keliling ringroad biar gak kaget kagetan lagi, berikut jurnal perjalanan gue:

  • 06.20 telat bangun, dijemput sama dua orang kelas lain, Umi Kaltsum dan Fakih [baru kenal, dan gak tau nama panjangnya siapa], hanya cuci muka dan berangkat sebelum jam 06.30 menuju arah solo.
  • 08.00 mampir sebentar di alfamart untuk beli koka kola karena biar ada gelojak dan menahan rasa mual diperjalanan.
  • 10.00 tiba di kartasura, makan pagi semi siang, dan beristirahat kurang dari satu jam kemudian melanjutkan perjalanan.
  • 11.30 mampir di rumahnya si fakih dan istirahat (gak seperti biasanya ada waktu istirahat, maklum rumah orang, disuruh istirahat jadi gak enak sendiri, hehe).
  • +15.00 keliling keraton sebentar dan langsung dibarengi dengan perjalanan pulang menuju jogja.
  • mau magrib mampir di warung makan dan menikmati yang namanya nasi liwed.
  • sampai di yogyakarta, jam 21.xx dengan selamat :D

Skema Rute: Jarak antara Yogyakarta-Solo diperkirakan minimal 61,7 KM. dan karena kita menggunakan jalur yang sama, berarti jarak Solo-Yogyakarta juga diperkirakan minimal 61,7 KM. Sehingga Total tempuh kita selama satu hari waktu itu adalah 123,4 KM

Kesimpulan

berawal dari tindakan wajar seorang anak manusia. dalam benak ini, gue selalu bertanya-tanya apa yang dapat memicu manusia untuk bisa berkembang. Bagi gue, gue sendiri enggak bisa mengatakan secara rinci karena gue sering terombang-ambing sama rasa males dan menunda. Gue selalu punya angan-angan yang besar untuk apapun yang gue liat, gue ingin bisa begini, gue ingin bisa begitu, dan yang lebih penting gue pengen membuat gaya baru yang belum pernah dibuat orang dan orang-orang mengkiblatkan gue sebagai aktivitas mereka, yaa titik kecilnya dari sekitar lingkungan gue aja dulu. gue pengen punya insiatif yang maju dan berkembang, tapi setiap kali gue punya niatan, pada saat itu juga gue selalu mengeluh dengan apa yang belum gue miliki, “Ah, ininya belum ada, ntar aja dah” padahal kalo gue rasa, itu yang sebenernya menghancurkan gue; trus apa yang gue kerjain? gue bahkan banyak menghasilkan bukan karna ide yang gue rencanain, tapi jauh lebih kepada apa yang sedang gue jalanin tanpa punya rencana.

Menurut gue, dunia kekomputeran itu sama luasnya seperti dunia nyata karena melalui komputer ini, data dan informasi, komunikasi bisa disetarakan dan perkembangan teknologi itu 0,1 detiknya selalu berkembang, jadi dari semua aspek yang ada, kedokteran, pendidikan dan segala macam lainnya, teknologi inilah yang selalu pesat perkembangannya. jika pendidikan berkembang, dari situ teknologi juga sudah pasti menyertainya, kedokteran apalagi dan segala sesuatunya sudah tidak bisa luput dari perkembangan teknologi.

Terjadi kesalah pahaman presepsi yang sebenarnya orang-orang komputer yang merasa dirugikan. contohnya nih, jika seseorang yang pendidikannya mengambil komputer, dan dia lebih condong pada bidang desain atau programming, dan orang terdekatnya tau dia mengambil pendidikan komputernya saja. tiba-tiba dia memiliki masalah dengan komputernya, misal komputernya butuh diinstal ulang, terjadi kesalahan atau kerusakan pada berkas sistemnya dan butuh di instal ulang atau repair. Nah, orang orang yang bertitelkan komputer ini tidak boleh menolaknya meski secara garis besar memang bukan bagian bidangnya. Karena jika orang ini menolak dia, otomatis dia akan berkata “percuma lu orang komputer tapi gak bisa bantuin instal”, apa kita mau bilang “maaf, gue desainer, gue programmer, gue animator dan bukan yang kayak gituan”. apakah itu yang akan kita ucapkan? tak peduli seberapa besar voting kita menjawab iya pada akhirnya kita yang dirugikan, menyakitkan bila kita langsung di banned begitu saja dengan ucapan yang sebenarnya mereka yang salah. Namun, orang-orang yang bukang berada pada bidang komputer tidak akan menyadari perbedaan pendidikan komputer dengan yang lainnya. Masyarakat itu gak mau tau, kalo kita orang komputer, yaaa mustinya kita harus bisa membantu meskipun sebenarnya itu menyimpang. Jadi, mau dia orang yang mahir atau tidak, tetap saja masyarakat tidak mau tau. jika kita mengabaikannya, mereka akan langsung berkata, alaaaah percuma kuliah komputer lama-lama.

Kasus kedua, ini adalah konfik internal. jangan bilang sesama orang komputer bisa saling memahami antar tindakan dan prinsip. kedua pengalaman ini benar-benar gue rasain dan sepertinya gue butuh membeberkannya kepada siapa yang mau baca postingan gue. Misalnya si A dan si B berada dikuliahan yang sama, sama-sama mengambil pendidikan komputer. si A selain tau tentang perkembangan teknologi, suka buat game, desain atau animasi. dan si B juga tau tentang perkembangan teknologi tersebut. si B memang tahu kalo si A ini membuat game, desain atau animasi. namun kerjaannya adalah selalu membanding-bandingkan dengan pekerjaan orang lain. misalnya, ah game lu kurang menarik bro, masa karakternya kayak gini, coba dong kayak game ini, lebih bagus gue yakin orang banyak yang suka. broo, masa karakternya kayak itu sih bro, buat yang lain dong kayak ini kek biar beda sendiri, dan lagi lagi bro ini bro, yang kayak gini bagus. Bayangkan bagaimana rasanya jadi yang di kritik. sebenernya kalo dibanding-bandingkan, si B memang tau, memang update, tapi satu hal pun dia tidak membuat apa-apa, dia cuma bisa membangga-banggakan ini, itu, dengan tidak sengaja dengan berkata animasi lu kurang, wiiish yang ini nih bagus banget, naaah kayak yang ini dong itu sebenrnya sudah membuat luka si A. emang dia kira gampang? biasanya orang yang suka ngeritik ini enggak tau apa-apa, ketika dia dipaksa buat mengerjakan hal yang dikerjakan oleh yang A, ternyata si B ini beku, diem, cengegesan dan beribu bahan alasan dikeluarkan.

Kesimpulannya, dari catetan gak beraturan yang diambil dari emosi kekesalan peribadi gue adalah bahwa bagaimanapun keadaan kita, konfik itu selalu ada, jika kita berteman konflik kita dengan teman kita sendiri dan ketika kita tidak bersosial maka sosial itulah yang menjadi konfik besar kita. trus, apa yang harus kita lakukan? positif thinking dan menjadi apa yang kita mau ajalah yang bisa mensupport kita.

Semangat yang Dipertanyakan

Mengingat beberapa tahun sebelumnya, ketika gue hanya masih memiliki sedikit pengetahuan tentang code code yang gue dapetin dari Pakar Ilmu Otodidak gue, Mbah Google. Ketika kala itu karena tuntutan job dan keuangan yang amat memblusuk, gue menggunakan web server offline berlabel XAMPP. Semakin larut semakin hari pikir hayal gue berkembang dan selalu gue tata rapi dalam baris-baris HTML. Ya, waktu itu gue memang menggeluti hal itu. Gue juga jarang ngeblog karena gue gak punya cukup waktu dan duit buat ngenet. Tapi, buat temen-temen sekeliling gue yang enggak memiliki daya tarik tentang internet malah mencekam gue, mencekam gue dengan kata-kata sensitifnya bahwa gue adalah Manusia setengah Blogspot, Hah? Apa maksud mereka? Mereka kira ngeblog adalah orang imannya lemah dan akan terjerumus diantara script koding, Gue ingin membela diri karena sebenarnya memang bisa dibenarkan sih, tapi bukan itu! kenapa mereka menyangkut pautkan gue sama hal kayak gitu, memang sih banyak dari para blogger yang memulai dunianya dari situ akan menjerumus dan TERTARIK sama pengkodingan, tapi akn enggak semuanya. Ada yang menjadikannya sebagai sarana penyebaran nama, menggunakan sumber daya yang ada dan dia hanya akan fokus pada konten penulisannya.

Waktu itu, ingin rasanya gue membela diri gue sendiri tapi gue gak punya kesempatan untuk berbicara didepan mereka. Ya biarlah, lagipula sebenernya mereka sering bertanya dan minta tolong kegue tentang hal kayak gitu. bener emang, ketika gue didepan komputer, gak peduli daya tarik gue sebenernya lebih spesifik dan enggak menyeluruh, ketika ada yang melihat gue dan ingin minta tolong, rasanya mereka ingin gue menyelesaikan masalah mereka. masyarakat memang enggak mau tau, siapa yang didepan komputer meskipun dia cuma ahli ngotak-atik microsoft word sekalipun, harus bisa membantu instal, troubleshooting dan lain sebagainya. karena titelnya akan tetap, gak peduli dia mau jadi Programmer, Developer, Desainer atau apalah itu, dia akan dibilang Orang Komputer. jadi, apa yang membuat gue tetap berjalan melawan arus hingga saat ini? gue yakin ini adalah Minat. Minat gue jauh berbeda dengan banyaknya kawan-kawan gue. Mungkin benar gue adalah orang yang paling sesat karena gue lebih condong sama jenis jenis komputer.

Kembali pada topik, waktu dulu gue cuma punya blogspot tapi udah ngerti bagaimana cara menghosting, yaaa gue cuma bisa pake hosting geratisan karena gue gak punya duit yang bisa gue relain buat ngapusin uang jajan gue buat beberapa bulan. gue punya banyak akun hosting sama blog dan semuanya gue update minimal seminggu sekali,. Kenapa bisa? sebetulnya dalam hati gue selalu bertanya, apa gue bisa konsisten kayak gini terus? kenapa enggak mempertahankan satu aja nyampe bener-bener kelihatan menonjol? tapi yang ada dalam benak gue, gue bisa berkesan keren kalo punya banyak web banyak dan semuanya gue kerjain sendiri, waktu demi waktu akhirnya gue bisa ngenet lagi dan itu terbukti, banyak temen-temen chatt yang menyanjung gue karena hal ini, gue semakin bangga dan pada akhirnya tepat pada masa gue belajar jahil, padahal gue cuma buat kata perintah Command Jahil aja pake command windows, gue selipin kesemua master executable dan membagikan keorang orang, tapi banyak dari akun gue yang mati mendadak gak tau kenapa. mungkin ini adalah karma, menurut gue, mereka akan bilang gila hebat bener, si fannil bikin virus itu, dan nama gue menjadi membusung jauh dibanggain, ternyata itu malah sebaliknya, ketika banyak karya gue menghilang dari komunitas web tanpa sebab itu, nama gue mulai menghilang dan kayak mereka gak bisa kenal ama gue lagi, apa yang bisa gue banggain? ketika gue pengen pamer lagi, mereka cuma bilang gue diforum forum dengan sebutah HOAX, mbelek.

Nostalgia ini membuat gue khawatir dengan kegiatan gue kali ini, jujur projek gue udah sangat banyak tapi gue berasa pengen ini pengen itu dan semua projek kayaknya pengen gue gencarin lagi, gue gak ngerti sama apa yang ada dibenak gue, tapi gue selalu berharap semoga enggak ada eksperimen yang kacau ditengah karena gue mulai merasa malas dan gue bisa menyelesaikan semuanya dengan rapi.

MONEY?

At many condition, I’ll say that we are, as the normal human being couldn’t be far away from money, money can be one of our inspiration for going to the bright future, and money can promise us many thing that we would like to do in this earth. We can say that we’ve many choice for life but the end we just need money. I’m sory for being don’t make you understand by this language, but sometimes i would describe something with this language and I hope you can understand what I mean although my english seems so bad and unnaceptable. My whole opinion about money never be end, as the normal people, I was very often get phisycal problem with money. I can’t produce my own money, but I just can stand by hoping it forever. I don’t know whats going on myself, but it seems I can’t control it by my only self, maybe true that no such angel will laugh us for wanting it in our life, but in the fact, it can be fatal attention for us, like do whatever though we can get it which no matter what happend to our environment. So, at this post I’ll only say that:

The Poorest People are those who don’t have anything except MONEY

Because…

MONEY can buy a house, but not a home…

MONEY can buy a clock, but not time…

MONEY can buy a book, but not knowledge…

MONEY can buy food, but not an appetite…

MONEY can buy position, but not respect…

MONEY can buy blood, but not life…

MONEY can buy medicine, but not health…

MONEY can buy insurance, but not safety…

MONEY can buy a bed, but not sleep…

and the last, Money can buy SEX, but not LOVE…