Terbelenggu, diam dengan masa baru dan menjadikan beberapa aturan menjadi bagian dari kehidupan. Rusak! perasaan bisa saja rusak karena aturan logika yang memiliki banyak simpul yang sulit dipecahkan, sesuatu yang tak bisa dikendalikan dari diri akan mendatangkan dua pemahaman emosi yang berlebihan dan orang-orang akan menyebutnya “terlalu”. kata “Terlalu” tak selamanya menjadikan manusia terbelenggu dengan suatu asumsi sebab umumnya kita dapat merasa “Terlalu senang” dan “terlalu sedih”. intinya emosional kita terbuka dan kita melepas peran logika kita menjadi jam terbang atau bawah sadar kita. Kita mungkin menyadarinya. Namun, suatu kesadaran yang kita pahami sebelum kita menyadarinya waktu itu bukan berasal dari serapan sebenarnya, itu hanya media hipnosis yang memaksa kita merangsang hal baru agar mudah ditoleran tanpa harus disaring melalui dasar logika.
Manusia cenderung membebankan satu pihak dari dirinya, beberapa menggunakan logika untuk memahami, meresapi keadaan sekitar, namun sebagian dari kita juga cenderung menggunakan hati dan perasaan untuk mentoleransi keadaan. Tingkat pemendaman rasa, nyeri hati dan ketegangan emosional yang berbeda juga menurut gue akan mempengaruhi ketajaman manusia itu sendiri. Takdir memang ada, tapi kita tidak musti menyangkut pautkan kesempatan hidup yang kita miliki dengan takdir tersebut. dengan keyakinan batin dan pikiran itu, seharusnya kita harus melewatkan pemahaman takdir yang tidak bisa kita mengerti melalui dua atribut manusia ini. Hidup adalah pilihan, dan pelakuan kita terhadap suatu pilihan akan tergantung dengan usaha yang kita upayakan dan apa yang akan kita dapatkan. Meski pendapat ini terlalu ekstrim jika kita tak memahaminya, kesimpulan kadang berubah-ubah, kesenangan dan kekaguman manusia juga terkadang luput dengan masa, namun kebenaran memang ada satu, dan tapi apakah kita akan memudarkan tujuan dan kekonsistenan itu?
Sulit untuk melihat kebenaran dibalik kenyataan yang kita lalui, kita butuh sejenak waktu untuk sendiri dan memikirkan semua itu, pola yang rumit dijangkau ini membutuhkan kesabaran dan pemahaman kita yang tinggi, setidaknya kita akan dipaksa untuk menyesuaikan perasaan dan logika untuk keadaan yang meliputi diri kita. Sejauh ini, ketika kita tidak dapat meresapi apapun dan memahami lingkungan sekitar, hal mudah yang dapat kita gunakan adalah membandingkan. Berapa banyak kah kegiatan kita untuk menjadi bermanfaat, berlatih, dan berkarya ketimbang kesenangan lain yang berubah-ubah?
“Jangan berpura-pura dalam berdo’a.”. Dibandingkan dengan urusan do’a, kita biasanya akan melewatkan titik fatal yang biasanya sering kita dengar dari orang-orang tua kita. kebiasaan mendengar cenderung membuat telinga kita menjadi bosan dengan uraian-uraian tersebut. ada suatu sistem yang salah dalam penyaluran dan penalaran informasi ini, namun kita pasti tidak asing dengan kata-kata itu. kita mungkin merasa kebal dengan peringatan itu, kebal bukan berarti kokoh! ini akan membuat kita jauh dari kehidupan manusia sebenarnya. Sesuatu terpecahkan, bukan dari sesuatu yang dapat dicuri dan dari sesuatu yang tidak ada duanya didunia ini. Sejauh ini, dengan sesuatu apapun yang terjadi, meresapi dan mendengar lingkungan adalah langkah utama “dasar” yang perlu kita perhatikan.

Sebagai seorang blogger. Ada tindakan para lingkungan blogger gue yang sangat gue benci. Gue hidup dengan kegiatan ngeblog memang sejak lama. dari saat gue masih duduk di bangku SMP yang kebetulan waktu itu gue masih Ababil dan masih menyandang setatus alay. Seiring pergantian masa, sarana blog memang tidak pernah hilang dari permukaan. bahkan meskipun game online dan jejaring sosial mulai dipadati, tapi sarana ngeblog tetap tidak terkalahkan. Dia bahkan melewati batasan waktu dan ruang dinamika tersendiri yang menjadikannya bukan untuk dibandingkan, ini adalah perbedaan yang menakjubkan. Namun, ada beberapa hal yang menurut gue adalah keburukan, gue membenci kegiatan ini karena dampaknya juga mengimbas kepada tautan-tautan lain disekelilingnya.
berawal dari tindakan wajar seorang anak manusia. dalam benak ini, gue selalu bertanya-tanya apa yang dapat memicu manusia untuk bisa berkembang. Bagi gue, gue sendiri enggak bisa mengatakan secara rinci karena gue sering terombang-ambing sama rasa males dan menunda. Gue selalu punya angan-angan yang besar untuk apapun yang gue liat, gue ingin bisa begini, gue ingin bisa begitu, dan yang lebih penting gue pengen membuat gaya baru yang belum pernah dibuat orang dan orang-orang mengkiblatkan gue sebagai aktivitas mereka, yaa titik kecilnya dari sekitar lingkungan gue aja dulu. gue pengen punya insiatif yang maju dan berkembang, tapi setiap kali gue punya niatan, pada saat itu juga gue selalu mengeluh dengan apa yang belum gue miliki, “Ah, ininya belum ada, ntar aja dah” padahal kalo gue rasa, itu yang sebenernya menghancurkan gue; trus apa yang gue kerjain? gue bahkan banyak menghasilkan bukan karna ide yang gue rencanain, tapi jauh lebih kepada apa yang sedang gue jalanin tanpa punya rencana.
