Kalo udah selese, trus apa lagi?

Kadang suka mikir, semua hal ini tujuannya ke mana sih sebenernya? Dari kecil didorong buat jadi sesuatu, disuruh kuat, disuruh ngerti. tapi buat siapa? dan untuk apa lagi? Kalau akhirnya cuma balik ke sunyi yang sama, apa semua ini cuma formalitas keberadaan aja? bahkan biarkan saja perang dunia ketiga mencuat. kehidupan manusia tak akan pernah berubah meskipun alatnya tak lagi bebas dan tak lagi sama

Hari-hari berlalu dengan banyak label yang dipasang sendiri ataupun dipaksa orang. Dipuji, dijelekkan, dihargai, dilupakan. Tapi di antara semua itu, tetap aja ada rasa kayak lagi antre sesuatu yang gak pernah pasti kapan nomornya dipanggil.

Pernah kepikiran gitu nggak sih? kalau semua urusan udah selesai, semua maaf udah dikasih, semua dendam udah diluruhkan. Terus apa? Mati bakal datang pas semuanya udah bersih? Atau justru pas semua lagi ruwet-ruwetnya biar nggak sempet pamitan?

Karena jujur, kadang udah ngerasa cukup. Udah selesai ngotot, udah capek nolong, udah gak pengen ngebenerin apa-apa lagi. Bukan nyerah, cuma sadar kalau mungkin ada titik di mana nungguin hidup berubah itu nggak masuk akal lagi.

Kematian tuh kayak kabar yang nggak ada tombol mute-nya. Pelan-pelan tapi pasti, nadanya makin keras seiring kita pura-pura nggak denger, temen gua juga banyak yang udah pergi dengan alasan mati. Dan ketika semua cahaya udah redup, kadang cuma tinggal satu doa yang nggak pernah dikirim karena nggak tau harus ke mana.

Mungkin nanti, mati akan datang pas segalanya lagi biasa aja. Bukan pas menangis, bukan pas berdoa, tapi pas lagi duduk sendiri tanpa beban. Dan waktu itu datang, bukan sedih yang dirasa, tapi ya itu memang adalahakhirnya. Sebuah “akhirnya” yang bahkan gak perlu dijelaskan.

Toh, hidup juga nggak pernah janji bakal jelas, kan? Mungkin memang dari awal ini cuma tentang menjalani lalu melepaskan. Jadi ya, kalau semua urusan udah selesai, apa masih harus tunggu lagi?

Enigma, dalam celah yang selalu aja sama

Menciptakan ruang untuk rasa aman sendiri bukan perkara gampang. Kadang butuh memutus banyak tali, membiarkan beberapa jendela tertutup rapat, dan diam tanpa harus menjelaskan kenapa. Di situ ada perlindungan, meskipun dunia melihatnya sebagai keasingan. Bukan menghindar, hanya tidak lagi ingin dilukai oleh skenario yang terus diputar ulang dengan aktor yang itu-itu juga.

Bau baunya sama, masih dan terstruktur. Tapi terkontrol ga? Lagi-lagi bikin alesan buat nutupin celah. Celah itu selalu ada, seperti lubang tusukan jarum yang dibiarkan menganga, menunggu darah menetes dan rasa bersalah ikut mengering bersamanya.

Kadang ingin berteriak, tapi kepada siapa? Kepada realita? Kepada memori? Atau kepada ilusi masa depan yang bahkan tak pernah sempat disusun dengan layak? Tidak dibelaki kemampuan khusus untuk dapat melakukan kontrol atas banyaknya fenomena model apapun yang akan terjadi, memang absur. Hanya bisa membiarkan diri tertimpa dulu, dan hanya berkutat pada hal terkait bagaimana caranya mengontrol reaksi dan memberikan respon terbaik aja.

Yang kedua, dari segala sesuatu yang pernah terjadi. Dari penghindaran panjang bahkan layaknya misteri yang tak pernah terpecahkan bak sebuah enigma. Dirintis oleh kesunyian. Membuat goyah, membuat gusar, namun juga membuatnya liar seperti tak pernah terkendali. Jan bicara mimpi!

Membenci dan mengutuk adalah adalah pola. Entah apakah esensinya beda antara ke manusia dengan Tuhannya sendiri. Seterah apa pun model kehidupannya, namun ternyata tak acuh dan berusaha tak peduli adalah pilihan yang bisa menyelematkan diri dari riak darah yang tak menentu. Menghindari didihan membuat rusak pada seluruh inti pada siklus. Jahat!

Kadang cuma pengen diem, nonton semuanya dari kejauhan. Tapi tahu nggak? Kebencian menciptakan banyak keajaiban. Kena sih, tapi tuh kadang senyum itu bukan karena bahagia, tapi karena akhirnya ngerti dari mana semua kebusukan itu bermula.

Segala pake kata “cara Tuhan nunjukkin busuknya orang tuh seru dah”, padahal mah busuk mah busuk aja kan ya. Pake dalil, pake perasaan, pake logika spiritual dan tapi ujungnya tetap pembenaran diri sambil injek kepala orang lain.

Topeng ga si itu mah, topeng ga si itu mah, esensinya apa coba. Kadang yang katanya “jujur” justru paling banyak selipan motif. Paling banyak niat yang disembunyikan di balik sudut mata yang pura-pura teduh.

Kalo emang suka membanding-bandingkan, jangan nanggung. Kalo suka menyalahkan, kenapa kaga nyalahin Tuhan atas semua kehidupan dan gerak-gerik situasi, sikap dan pola takdir aja? Aneh banget kalau salahnya selalu di luar, tapi merasa hidup ini adalah panggung yang dipentaskan atas nama pilihan pribadi.

Pernah merasa jadi satu-satunya yang sadar sesuatu aneh, tapi nggak bisa ngomong apa-apa? Karena ngomongnya malah bikin tambah ribet, bikin semua orang gerah. Jadi ya udah, simpan aja, bawa pulang, dan biarkan tumbuh jadi hutan kecil dalam kepala. Ngebul sendiri? ya emang orang lain peduli apa ama gitu gituan?

Kadang hidup ini terasa kayak nonton film yang terlalu lama, dan lupa kenapa awalnya betah duduk. Tapi ya gitu, ada rasa tanggung kalau berhenti di tengah, meskipun ending-nya udah kebaca sejak menit kelima.

Dan pada akhirnya, dari segala letupan marah, kecewa, diam dan ketawa palsu, cuma pengen dicatat satu hal: kalau semua ini bukan pengakuan, ya anggap aja catatan pinggiran. Karena mungkin besok akan muncul celah baru yang baunya masih sama, hanya dibungkus lebih wangi dari sebelumnya.

Lubang-lubang kecil yang katanya normal

Kadang hidup tuh ga jauh beda sama aktifitas ngoding, udah berasa kayak ngetik panjang-panjang tapi file-nya lupa disave. Dianggap sedang mencipta sesuatu, padahal cuma berkutat pada tab kosong yang tak pernah sempat dibuka ulang. Mungkin ini juga begitu. Masuk ke pola yang serupa: percaya, memberi ruang, lalu hampa. Anehnya, sekeliling tampak tenang-tenang saja.

Cek cek, memang absurd. Seketika kehidupan bergeming atas perlakuan terhadap permainan tanpa rasa bersalah. Seperti diberi papan catur, tapi tak satupun bidak bergerak, dan entah kenapa harus terus berpura-pura mengerti langkahnya.

Dulu pernah merasa cukup dengan proses, puas dengan keindahan tapak kaki dan jejak dari jemari lentik sendiri. Tak butuh hasil, tak cari pengakuan. Dulu memang slelau berkelut pada hal yang emang gabutuh hasil, dan dirasa gua juga akan hidup dengan proses. Tapi ternyata gitu ya rasanya sakit hati, bertubi-tubi dengan banyak skema model atau cara dekil dan kali ini masih berulang hingga menjadi kebiasaan untuk kesekian kalinya, meski memang bukan dengan hal serupa cara curang meremukkan segalanya. berulang ulang menciptakan lubang kecil sendiri, dan berulah bagai hal biasa yang lumrah. kenapa ya? bahkan sabar aja sekarang ga dibutuhin karna mayoritas sudah berubah, menjadi makin membabi buta menginjak seenaknya

Pernah nggak sih ngerasa udah jadi versi yang lumayan baik dari diri yang sebelumnya, tapi tetap dianggap sama saja? Bukan sedang menuntut keajaiban, tapi rasanya aneh juga kalau harus terus dipertanyakan meski sudah berulang menjelaskan. Engga malu? Hidup dengan banyak landasan yang gapernah bisa dipertanggungjawabi? Manusia memang berevolusi, berkembang. Tapi bukan berarti memunafikkan diri atas ego dan situasi hanya untuk menutupi kadar lubang yang dibuatnya sendiri, bukan?

Terkadang terasa seperti bersembunyi dibalik paradigma setan yang sering digunakan sebagai perhiasan makna. Yang salah dibiarkan, yang semu dikemas seolah luhur, dan yang jujur malah apaan? jangankan ditertawakan, ga keliatan.

Jika senar kusut, kesabaran mengurai segalanya. Tapi siapa yang masih bersedia duduk diam memisah benang satu per satu saat banyak tangan malah sibuk menambah simpul?

Jemari lentik yang sebenarnya menghasilkan ketentuan yang ambigu. Satu sentuhan bisa membalik segalanya, dan siapa yang bisa menyalahkan ketika semuanya sudah terlalu kabur bahkan untuk diingat?

Mungkin tulisan ini bukan bentuk keluhan. Hanya pengakuan diam atas tumpukan luka yang tak bisa dijelaskan satu per satu. Hari ini saja. Besok mungkin tak lagi ingat. Tapi setidaknya, ada satu lubang lagi yang terbuka di dinding sunyi, dan kali ini, tidak ingin buru-buru ditambal.

Terbayang-bayang dengan bayangan

Ada satu titik dalam hidup di mana pertanyaan tidak lagi mencari jawaban. Ia hanya ingin diucapkan, sekadar menjadi gema agar sunyi tidak terlalu menakutkan. Di titik itu pula, segala bentuk usaha untuk memahami diri sendiri berubah menjadi perangkap. Semakin dipahami, semakin kacau. Semakin ingin dibereskan, semakin tak terjamah. Mungkin karena memang tidak akan pernah mungkin ada yang bisa dibereskan dan mungkin memang akan melekat menjadi masalah seumur hidup. Seperti yang udah-udah bahwa cuma ada hanya upaya untuk terus berjalan, meski jalannya penuh kerikil dan pengulangan luka yang seolah-olah baru, padahal sudah sering singgah.

Kadang merasa sedang mengejar sesuatu, padahal tidak tahu apa. Kadang merasa sedang lari dari sesuatu, padahal tidak tahu ke mana. Seperti halnya bayangan itu, kadang berlari dari diri sendiri di mana bayangan yang tidak diharapkan selalu ikut menyertai. Ia muncul dalam bentuk rasa malu atas masala’h’lu, penyesalan atas keputusan, dan suara-suara yang terlalu keras di kepala. Sulit mengusirnya, karena sejauh apapun melangkah, ia tetap setia membuntuti, mengendap dalam lengkung cahaya yang samar-samar membentuk siluet rapuh, bobroknya diri sendiri.

Ada banyak hal yang tak terungkap. Bukan karena tak ingin dibagikan, tapi karena siapa pun yang mendengar belum tentu bisa memahami. Atau lebih buruk: menertawakan. Karena itu, semua rasa dikemas dalam diam. Disusun dalam lapisan-lapisan ketahanan yang terlihat kuat dari luar, padahal hanya tumpukan pasir yang siap runtuh kapan saja. Kegelapan menjadi bagian dari diri. Bukan karena mencintainya, tapi karena terlalu lama berdamai dengannya sampai lupa rasanya benar-benar terang.

Seperti halnya kehidupan yang diibarat kata bermain catur dengan bayangan sendiri, yang punya pemikiran dan ego sama seperti diri. Kadang ga akan pernah mungkin bisa menang, kadang cuma ngerasa capek sendiri. Karena apapun langkah yang diambil, lawannya sudah tahu. Karena strategi terbaik sudah bocor sejak awal. Permainan ini tak pernah adil. Tidak pernah benar-benar ada klimaks yang terasa menyenangkan, hanya yang lebih tahan diserang.

Ada hari-hari di mana semua terasa kabur. Yang dekat terasa jauh. Yang jauh justru menetap di kepala. Percakapan demi percakapan kehilangan makna, menjadi rutinitas membosankan yang hanya menguras energi. Bahkan tersenyum pun terasa seperti tugas. Seolah harus meyakinkan dunia bahwa semuanya baik-baik saja, padahal di dalam hati, gemuruh tak pernah berhenti. Ada kerusakan yang tak bisa diperbaiki, hanya bisa ditutupi. Kerusakan yang memang didesain oleh tuhannya sendiri dan dikonsumsi oleh makhluk kecil yang tak bisa apa-apa kecuali menggerutu seumur hidupnya.

Beberapa luka tidak berdarah. Ia hanya tumbuh di tempat yang tidak terlihat. Mengakar di kesadaran, dan muncul dalam bentuk keraguan, sinis, atau rasa takut yang tidak rasional. Tidak semua luka butuh untuk sembuh. Beberapa hanya perlu dibiarkan menjadi bagian dari narasi. Karena menghapusnya justru membuat cerita terasa hambar. Sebab mungkin setiap kejatuhan menyimpan keindahannya tersendiri buat para orang-orang yang sok puitis dan suka mengandalkan kesengsaraan orang dalam bentuk naskah atau plot cerita yang sering dipertontonkan layaknya di sinetron kegemaran emak-emak

Kadang merasa terlalu dewasa untuk berharap, tapi terlalu rapuh untuk menerima kenyataan. Berdiri di tengah ruang abu-abu, menimbang segala hal, mempertanyakan semuanya, dan pada akhirnya kembali ke titik awal. Seraya menyambung semua hal terkait rasa bingung dan gaakan pernah mungkin bisa tau bahwa harus percaya pada apa lagi. Dulu mungkin semua ini terasa lebih sederhana. Tapi makin ke sini, makin terasa bahwa menjadi manusia bukan hanya soal hidup. Tapi juga bertahan dalam ketidakjelasan yang terus berubah.

Ada semacam kesepakatan diam antara diri dan waktu, yang tak perlu diteken dengan kontrak dan tandatangan diatas materai. Bahwa tak semua harus diselesaikan hari ini. Tapi juga tak bisa diabaikan selamanya. Maka, hidup menjadi proses menunda kegilaan. Menjaga diri agar tetap rasional, meski logika sendiri kadang menertawakan isi hati. Bertahan menjadi satu-satunya pilihan, bahkan saat tak tahu lagi untuk apa.

Orang bilang semua akan baik-baik saja. Tapi tidak semua ingin baik-baik saja. Beberapa hanya ingin dimengerti tanpa perlu berubah. Beberapa ingin dibiarkan rusak dengan caranya sendiri, tanpa harus diperbaiki sesuai standar umum. Karena tidak semua kerusakan adalah hal yang buruk. Ada yang justru melahirkan perspektif baru, cara pandang yang lebih jujur terhadap dunia.

Ada ruang dalam diri yang tidak pernah bisa disentuh siapa pun. Tempat segala hal dilempar tanpa aturan. Di sana tersimpan kemarahan yang tak sempat keluar, tangisan yang dipaksa senyum, dan doa yang tak berani diucapkan karena terlalu takut tidak dikabulkan. Di sana, sunyi menjadi teman. Bukan musuh. Karena hanya sunyi yang tidak menghakimi.

Jika pada akhirnya semua ini hanya rangkaian bab tanpa akhir yang pasti, maka biarkan ia mengalir seperti sekarang. Tidak usah buru-buru bahagia. Tidak usah memaksakan penyelesaian. Karena hidup tidak butuh klimaks. Kadang hanya butuh jeda yang cukup untuk bernapas, sebelum lanjut berhadapan lagi dengan bayangan yang tak pernah benar-benar pergi.

Dan kalaupun nanti semuanya reda, bukan berarti sembuh. Bisa jadi hanya karena sudah terbiasa. Karena kemunafikan manusia memang sebobrok itu. pandai bertahan, meski tak paham lagi untuk siapa. Pandai menampilkan versi terbaik, meski yang asli sudah lama hilang bentuknya. Mungkin itu kenapa menatap cermin sekarang terasa seperti bertemu orang asing.

Pada akhirnya, tak perlu menjadi pahlawan untuk menang. Kadang cukup jadi seseorang yang tidak menyerah hari ini. Karena besok, bayangan itu akan tetap ada. Tapi mungkin setidaknya untuk saat ini bisa diajak duduk bareng. Bukan untuk dihindari, tapi diterima sebagai bagian dari diri yang tak sempurna, karena semuanya selalu menjadi bagian dari hal yang amat teramat nyata

Tak lepas dari bias yang bohong

Terlalu banyak kisah dan cerita yang menarik, bertebaran dalam lintasan waktu yang seringkali membingungkan. Rasanya ingin berhenti sejenak, untuk sekadar bernapas. Namun justru waktu yang terus menghimpit membuat refleksi dan nostalgia terpaksa disimpan rapi di dalam diam. Padahal, diam itu menyiratkan banyak hal… termasuk kebahagiaan kecil yang tak sempat diceritakan pada catatan-catatan harian gua yang kayak gini.

Jika bermimpi tentang sosok bersayap gelap yang menatap tanpa kata, jangan takut. Itu artinya, dunia belum sepenuhnya hilang… masih ada satu malaikat yang berjaga. ~Seraphis. Kalimat itu entah bagaimana muncul kembali, di kepala yang sedang kebingungan mencari makna dari kehilangan, dari penjagaan yang tak tampak, dan dari kenyataan bahwa kadang yang gelap juga bisa menjadi pelindung.

Seperti hujan yang turun bukan untuk merusak, tapi justru menghujani dengan sangat hangat dan asam. Ia tidak merusak apapun, namun meninggalkan sensasi yang tak terungkap. Citra yang hadir dalam pandangan, tak dapat dijelaskan meski dilihat oleh mata yang telanjang secara verbal. Karena tidak semua yang nyata bisa dirumuskan, dan tidak semua yang terlihat bisa dipahami.

Dan dalam segala perubahan yang datang dan pergi, tetap ada satu hal yang tidak pernah berubah: kebohongan. Banyak hal yang mungkin bisa berubah, bisa tumbuh atau lenyap begitu saja, tapi bohong… bohong adalah kriteria yang ga akan pernah bisa lepas dari karakteristiknya. Mau sampai kapanpun, itu akan tetap jadi racun yang membekas yang saat ini gua klaim menjadi satu-satunya bagian yang tak akan pernah mungkin bisa lepas karena keabadian, ruh, emosinal dan bohong adalah bagian dari hidupnya.

Bukan bermaksud menjadi pendendam. Tapi kadang, benci pada tindakan atau ide saja tidak cukup. Hanya perlu benci pada tindakan atau ide, asal bukan orangnya  (eh, dua duanya ajadah), Tapi kayaknya gua akan benar-benar memasukkan satu orang lagi dalam muara kebencian. Apapun itu, dan pasti ga akan pernah mungkin gua maafin dalam seumur hidup gua. Meski terdengar kasar, ini yang sangat terbaik buat kestabilan hidup gua yang seringkali rapuh tanpa alasan.

Tapi sian banget. Pelakunya siapa dan yang kena imbasnya sekarang siapa? Kadang ga tega juga, tapi apapun yang membekas, ya udah membekas. Ga akan bisa merollback fenomena, meskipun kita tahu siapa yang salah, dan siapa yang harusnya gak kena.

Kenyataan tak pernah sesempurna itu. Tapi entah kenapa sekarang, walau hanya sebatas dan sesedikit itu, rasanya cukup. Rasanya mewakili. Bahkan jika itu cuma fragmen kecil dari keseluruhan rasa yang ga pernah bisa dituntaskan sejak awal.

Terlalu banyak even dan momen dari linimasa yang tak bisa kembali. Semua udah lewat, kayak fragmen yang pernah indah, tapi sekarang cuma jadi bagian dari cerita. Ada yang masih diingat, ada yang udah mulai pudar. Tapi semuanya punya satu kesamaan: ga bisa diulang lagi.

Kadang ingin nulis semuanya, nyeritain ulang detailnya. Tapi malah jadi takut sendiri. Takut kalimat yang dirangkai justru membuka luka yang udah susah-susah ditutupin rapi. Jadi lebih aman ditahan, ditulis setengah, atau dikodekan lewat metafora yang ga semua orang bisa pahami yang ujung ujungnya kek bangke.

Waktu udah nggak bisa ditawar. cuma bisa ikutin, sambil berharap sempat mencatat jejaknya dalam tulisan. Supaya nggak semua kenangan cuma berakhir sebagai angin yang numpang lewat. Setidaknya, ada yang bisa dikenang dari lembar-lembar pikiran yang pernah berani berkata jujur. tipikal yang amat berlawanan dari pembohongan entah mungkin masal dan masif

Banyak dari semuanya yang kehilangan sesuatu dalam proses dewasa, entah semangat, kepercayaan, atau bahkan diri sendiri. Tapi bukan berarti itu klaim sesuatu yang gagal. Kadang kehilangan adalah bentuk baru dari penemuan yang belum sempat dipahami.

Dan di akhir hari, setelah semua ini, setelah melihat bahwa ternyata kaki masih tetap berjalan. Dengan luka yang mungkin belum sembuh, dengan rindu yang belum sempat pulang, dan dengan senyum yang entah milik siapa. Tapi setidaknya, langkah tetap berlanjut. Dan untuk sepertiga kehadiran dalam ruang kantor yang sebeanrnya terkendala atas emosional yang merayap tapi juga mengikis pikiran dan ego yang muncul, menulis memang selalu gua rasa menjadi cara yanng amat teramat dan paling jujur untuk merasa hidup itu masih dijalani dan dikendalikan